Terdapat beragam kecerdasan individu yang mengindikasikan kemampuannya dalam berbagai bidang. Kecerdasan yang sering kita kenal adalah IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan intelejensia, EQ (emotional quotient) atau kecerdasan mengelola emosi, dan SQ (spiritual quotient) atau kecerdasaan yang berhubungan dengan Sang Pencipta. IQ mengukur kemampuan berpikir individu untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kemampuan logikanya. Sedangkan EQ merupakan matra untuk mengukur kemampuan seseorang mengendalikan emosinya secara kontekstual dengan lingkungan sosial yang dihadapinya. Konsep SQ lebih ditekankan kepada aspek rasa percaya dan keyakinan individu kepada hubungan dirinya dengan penciptanya.
Selain ketiga kecerdasan tersebut, ada kecerdasan yang disebut sebagai AQ (adversity quotient), yang mengukur kemampuan individu untuk bangkit kembali dari kegagalan yang dia alami dan memetik pelajaran dari kegagalan tersebut. Kecerdasan ini diperlukan sebagai salahsatu kondisi yang harus dipenuhi oleh individu dalam menghadapi lingkungan yang berubah dan tidak pasti. Semakin tinggi kecerdasan ini, individu akan relatif lebih cepat bangkit dari kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut agar tidak terulang lagi di masa mendatang.
Stoner dan Gilligan dalam bukunya yang berjudul The Adversity Challenge menjabarkan siklus yang disebut sebagai the adversity cycle. Siklus terdiri dari lima tahapan: (1)kesulitan (adversity), (2) pencerahan dan pengungkapan, (3) penyesuaian, (4)kedewasaan, dan (5) keyakinan dan keberanian. Selanjutnya, siklus kembali lagi ke tahap pertama, yaitu tahap kesulitan. Dari siklus tersebut, dapat dimaknai kalau hasil dari suatu kesulitan atau kondisi yang buruk, bukanlah selalu berakhir dengan rasa putus asa. Individu sepatutnya menyadari apa yang menjadi ‘manfaat’ dari kejadian tersebut, untuk selanjutnya membuat mereka dapat melakukan penyesuaian. Tahap ini merupakan suatu upaya adaptasi. Secara sikap, individu akan lebih dewasa dalam memandang suatu kondisi buruk dan wawasannya juga akan semakin luas. Kedewasaan ini akan meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian mereka untuk mengambil risiko di masa mendatang. Pola siklus seperti ini sering kita jumpai pada film-film cerita yang mengisahkan bagaimana untuk mencapai kemenangan, seorang tokoh jagoan harus mengalami dulu kekalahan.