Membentuk identitas diri

Ada satu kata bijak yang mengatakan: jangan menilai buku dari sampulnya.  Kurang lebih artinya adalah kita tidak boleh sekedar mengukur kadar seseorang dari penampilannya saja.  Tanpa membantah kata bijak tersebut, pada kenyataannya penampilan seseorang seperti sebuah etalase yang direspons oleh orang lain.  Meskipun penampilan bukanlah cerminan karakter pribadi sesungguhnya, disarankan agar setiap individu memperhatikan bagaimana mereka merepresentasikan dirinya.  Setiap individu memiliki ciri-ciri yang khas, sehingga dapat diingat dan dikenali oleh orang lain.  Ciri-ciri tersebut dapat berkaitan dengan karakter fisik ataupun non-fisik.  Karakter fisik meliputi hal-hal seperti: bentuk tubuh, karakter wajah, cara berpakaian, gerak-gerik yang teramati, dan lain sebagainya.  Sedangkan karakter non-fisik adalah karakter yang tidak kasat mata, seperti: sifat, perasaan, sikap, persepsi, dan lain-lain.  Karakter fisik dianalogikan sebagai ‘sampul buku’, sedangkan karakter non-fisik, adalah ‘isi buku’ yang sulit diamati secara sekilas.  Untuk mengenali karakter non-fisik, diperlukan interaksi yang relatif lebih lama dibandingkan dengan pengamatan karakter fisik.  Pada awalnya, orang lain menangkap elemen-elemen yang terkait dengan karakter fisik.  Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memperhatikan hal ini, terutama kalau kita akan bertemu dengan orang yang belum pernah atau jarang bertemu dengan kita.  Tujuannya agar impresi mereka menjadi positif kepada kita.  Seiring dengan semakin seringnya kita berinteraksi, karakter non-fisik kita akan memperkuat identitas diri kita, dan diharapkan impresi orang lain kepada kita akan semakin positif.

Mengapa kita bisa dapat dengan mudah mengingat seseorang, tetapi sulit untuk mengingat orang yang lain?  Kita punya kecenderungan mengingat seseorang dengan karakter yang unik dan spesifik.  Sebaliknya, kita cenderung sulit untuk mengingat orang yang cuma rata-rata atau tidak memiliki karakter yang menonjol.  Identitas diri yang unik dan spesifik membuat orang mudah mengingat kita.  Identitas yang kita harapkan akan diingat oleh orang lain adalah identitas yang positif, seperti: bijaksana, tegas, mendukung, dan lain-lain.  Perlunya kita berhati-hati dalam membentuk identitas diri adalah karena bukan tidak mungkin orang lain menangkap karakter kita yang negatif, seperti: sombong, pelit, egois, dan lain sebagainya.

Sebagai pribadi, hal yang dapat kita lakukan adalah membentuk identitas diri.  Pihak lain menangkap identitas diri kita sebagai suatu citra yang memiliki makna unik dan spesifik bagi mereka.  Artinya, citra diri seseorang merupakan hasil dari pembentukan identitas diri.  Dengan demikian dapat disimpulkan, kita perlu membentuk identitas diri, baik yang terkait dengan karakter fisik ataupun non-fisik, agar citra kita di mata orang lain menjadi positif.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment