Masalah yang dihadapi oleh seseorang memiliki bobot yang berbeda-beda. Hal yang terpenting bukanlah berat ringannya masalah yang dihadapi, tapi bagaimana menangani masalah tersebut dengan percaya diri. Gagal ataupun sukses adalah konsekuensi yang wajar. Rosabeth Moss Kanter mengatakan kalau perbedaan antara si juara dan si pecundang adalah bagaimana mereka menangani kekalahan. Seperti halnya dalam bertanding, seorang atlit tidak akan pernah selamanya menang.
Diperlukan kerja keras dan keseksamaan yang terus menerus guna mencapai kesuksesan. Sepanjang perjalanan menuju kesuksesan terdapat banyak halangan dan kegagalan yang sangat mungkin terjadi berkali-kali. Poin penting yang perlu dijadikan hikmah adalah pembelajaran dari halangan yang dilalui dan kegagalan yang dialami. Seperti halnya anak kecil yang belajar berjalan, segala sesuatu perlu dilakukan tahap demi tahap. Di setiap tahap akan ada kemajuan sedikit demi sedikit, yang lama kelamaan akan membentuk suatu kemampuan. Rasa percaya diri tinggi yang disertai motivasi dapat mengantar seseorang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Selain dorongan dari dalam diri, lingkungan juga punya peran penting dalam memfasilitasi terbentuknya rasa percaya diri. Lingkungan sosial yang mengkondisikan pantang menyerah akan menumbuhkan percaya diri anggota lebih tinggi, dibandingkan dengan lingkungan sosial yang dengan mudah memberikan hukuman atas setiap kesalahan. Situasi pembelajaran yang berkelanjutan dapat membuat seseorang belajar dari kesalahan yang dilakukannya, untuk menjadi lebih baik di masa mendatang. Tentunya diperlukan kehati-hatian dalam menentukan batas toleransi kesalahan. Cara yang paling sering dilakukan oleh organisasi adalah dengan memberikan porsi tanggungjawab yang sepadan dengan hak yang diberikan. Pemberian ganjaran dan hukuman adalah jalan pintas yang sering digunakan untuk meningkatkan motivasi, namun demikian belum tentu cara ini dapat mendukung terbentuknya rasa percaya diri yang mantap. Diperlukan suatu upaya lebih dari pihak pimpinan organisasi untuk memahami individu-individu kunci yang dianggap sebagai kader penerus. Libatkan mereka untuk membuat keputusan dan melaksanakannya. Ketika mereka berhasil, yang mereka dapatkan bukan hanya ganjaran, tetapi juga meningkatnya rasa percaya diri. Mereka membuktikan kalau mereka mampu mencapai tujuan dari apa yang mereka putuskan.
Sebagai penutup, ada satu pelajaran dari perusahaan elektronik Samsung dalam mempertahankan rasa percaya diri dalam kondisi bersaing. Jika kita berada di peringkat kedua, apa yang harus kita lakukan?. Tentunya jawabannya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi peringkat pertama. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus kita lakukan ketika kita sudah berada di peringkat pertama? Ternyata jawaban untuk mempertahankan peringkat pertama adalah tidak tepat. Samsung bertekad, jika sudah menduduki peringkat pertama, berusahalah semaksimal mungkin untuk semakin memperlebar jarak dengan pesaing yang berada di peringkat kedua. Dengan demikian, rasa percaya diri tidak berhenti ketika kita sudah mencapai tujuan, tapi terus dibangun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.