Aspek-aspek dalam pengambilan keputusan

Salah satu penilaian akan kualitas seorang pemimpin adalah bagaimana dia mengambil keputusan. Tidak pernah ada keputusan yang benar dan salah secara mutlak. Setiap keputusan pasti memiliki konsekuensi positif dan negatif. Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko setiap keputusan. Terdapat perbedaan antara keputusan dengan melakukan kalkulasi risiko dan keputusan tanpa perhitungan. Bentuk yang pertama dilakukan secara seksama, dengan pertimbangan efek negatif kalau gagal dibandingkan dengan efek positif yang akan diperoleh kalau keputusan tersebut berhasil. Di lain pihak, keputusan yang dilakukan tanpa perhitungan dapat dikatakan sebagai keputusan yang sembrono dan cenderung nekad.

Hal yang juga penting untuk dipertimbangkan adalah kadar kepentingan dan keterdesakan waktu. Diperlukan penetapan prioritas dalam pengambilan keputusan. Prioritas dapat ditetapkan dengan melakukan kategori keputusan menjadi tiga prioritas dari tingkat yang paling penting sampai yang paling tidak penting: harus dikerjakan dengan segera, dapat ditunda dengan tetap menginvestasikan waktu dalam pengerjaannya, dan dapat diabaikan.

Pengambilan keputusan yang harus dikerjakan segera adalah yang menjadi prioritas pertama. Namun demikian, individu perlu mendisiplinkan diri untuk mengurangi peluang terjadinya kondisi keterdesakan waktu, karena kondisi seperti ini akan mempengaruhi kualitas keputusan yang dibuat. Jika porsi prioritas pertama dapat dikurangi peluangnya, maka individu disarankan untuk lebih memfokuskan diri pada prioritas kedua. Kata kunci untuk prioritas kedua ini adalah perencanaan. Ketika waktu belum mendesak, individu mempunyai keleluasaan untuk mencari tambahan-tambahan informasi sebagai pertimbangan guna menghasilkan keputusan dengan kualitas yang lebih baik. Di saat waktu sudah mendesak, individu sudah lebih siap dalam mengambil keputusan. Prioritas terakhir adalah keputusan yang dapat diabaikan karena dampak dari keputusan tersebut tidaklah esensial dan signifikan.

Pada pelaksanaannya, pengambilan keputusan tidak harus selalu dilakukan oleh individu. Alternatif pengambilan keputusan dapat dilakukan secara berkelompok dan melakukan delegasi ke pihak lain. Jika keputusan memerlukan kesepakatan banyak individu, maka diperlukan pengambilan keputusan secara berkelompok. Pengambilan keputusan secara berkelompok memiliki keunggulan dalam hal objektifitas, gagasan yang lebih kaya, dan pemahaman bersama. Namun demikian, cara ini juga memiliki keterbatasan dalam hal waktu pengambilan keputusan yang lebih lama dan adanya potensi konflik. Keputusan dapat didelegasikan kepada pihak lain, baik secara internal maupun eksternal. Dengan melakukan delegasi secara internal, seorang pimpinan setidaknya mendapatkan dua manfaat: mengurangi beban kerja mereka dan memberdayakan anak buah mereka dalam ketrampilan pengambilan keputusan. Tentunya diperlukan keseksamaan pimpinan dalam memilih keputusan mana yang dapat didelegasikan, dengan memperhatikan esensi keputusan, kontekstualnya, dan kemampuan anak buah. Pada beberapa kondisi, dapat juga keputusan dilegasikan kepada pihak eksternal. Hal yang menjadi pertimbangan adalah kesesuaian antara kepakaran pihak eksternal dengan keputusan yang diambil, dan rutinitas keputusan yang jika dilakukan oleh individu akan menghambat pengambilan keputusan yang lebih penting. Salah satu cara yang kerap dilakukan untuk mendelegasikan pengambilan keputusan secara eksternal adalah dengan melakukan outsourcing pekerjaan kepada pihak yang lebih pakar.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment