Atasan dalam membimbing anakbuahnya memiliki kemiripan dengan interaksi antara seorang pengajar kepada siswa-siswinya. Jika selama ini dianggap kalau pengajar tugasnya adalah membimbing siswa-siswinya menjadi insan yang pintar dan pandai, pada perkembangannya anggapan ini perlu didefinisi ulang. Jason Stevens dari Ican Development Ltd, mengusulkan untuk menggeser sudut pandang dari membuat pintar menjadi menumbuhkembangkan. Dia mengandaikan kalau menumbuhkembangkan kemampuan manusia itu seperti berkebun. Manusia dianggap memiliki kemiripan dengan tanaman yang dapat tumbuh.
Stevens menargetkan pertumbuhan dengan menggunakan GROWTH, yang merupakan singkatan dari Goal, Results, Ownership, Will, Timed, dan How. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing komponen GROWTH tersebut:
G = Goal. Mendefinisikan dengan jelas dan rinci akan apa yang perlu untuk dicapai. Gunakan pernyataan-pernyataan yang positif dalam menjabarkannya. Komponen ini adalah penentu arah dari upaya menumbuhkembangkan. Dengan demikian, kegiatan dapat difokuskan pada tujuan yang spesifik.
R = Result. Visualisasikan dan tetapkan bentuk hasil yang akan dicapai secara konkrit. Diperlukan pengukuran yang objektif guna mengevaluasi dan mengukur hasil tersebut, agar tidak terbiasnya pengertian.
O = Ownership. Ketahui dengan jelas pihak yang memiliki goal tersebut di atas, serta tentukan juga pemangku kepentingan lain yang terkait dengan pihak tersebut.
W = Will. Pahami tingkatan kemauan (will) dan ketrampilan (skill) yang diperlukan agar sasaran dapat diraih. Kemauan sangat tergantung dengan motivasi dan tingkat keterlibatan pelaku, sedangkan pengembangan ketrampilan dan pengetahuan tergantung dengan sikap pelaku sebagai pembelajar.
T = Timed. Dimensi waktu adalah alat ukur yang objektif. Oleh karena itu, tetapkan juga durasi pelaksanaan disamping penentuan pengukuran hasil. Untuk keperluan pertumbuhan yang berkesinambungan, perlu untuk membagi dimensi waktu ke dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Tentukan juga waktu dan cara untuk mengukur kemajuan, sehingga diketahui kondisi yang riil dari pertumbuhan si pelaku.
H = How. Ketahui secara rinci tahap-tahap pelaksanaan pertumbuhan ini. Siapkan juga rencana cadangan, sebagai penyangga jika ada gangguan terhadap rencana awal. Prakirakan masalah serta hambatan yang mungkin dihadapi, dan siapkan langkah-langkah penanggulangannya. Sebagai pemicu di tahap awal, perhatikan persiapan dan bekal yang perlu difasilitasi agar proses dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Konsep yang ditawarkan Stevens ini bukan merupakan sesuatu yang berjalan searah, tapi merupakan siklus. Sedangkan proses untuk menjadi pintar sifatnya linear. Sebagai contoh, dalam penilaian di sekolah terdapat nilai tertinggi, 100 atau A. Nilai tersebut merupakan hasil pengukuran akan tingkat kepintaran seorang siswa atau siswi. Pendekatan seperti ini tidak sesuai untuk diterapkan pada Growth, karena diasumsikan setiap orang bertumbuh dari waktu ke waktu dengan tingkat percepatan yang berbeda-beda. Hal yang terpenting adalah mengetahui seberapa besar pertumbuhan yang terjadi antara sebelum dan sesudah GROWTH dilaksanakan, bukan dengan nilai akhir yang sifatnya kaku.