Membangun rasa percaya diri

Perasaan takut gagal, trauma masa lalu, ataupun pembentukan karakter sejak kecil adalah beberapa penyebab tidak kokohnya rasa percaya diri seseorang. Karena hal ini terkait dengan keengganan untuk pengambilan risiko, mereka yang tidak percaya diri cenderung untuk mencari jalan aman dengan menarik diri dari tanggungjawab yang memiliki peluang untuk gagal. Mereka yang tidak percaya diri ‘bersembunyi’ di belakang orang lain atau mencari bermacam alasan sebagai pelindung untuk mengelak dari tugas di luar rutinitas mereka.

Rosabeth Moss Kanter membuat hukum yang menyebutkan: “apapun dapat terlihat sebagai suatu kegagalan.” Dikatakan juga olehnya kalau perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah bagaimana sikap mereka dalam menangani kekalahan. Seorang dengan rasa percaya diri yang tinggi, menganggap kegagalan adalah pelajaran untuk menjadi lebih baik di waktu mendatang. Sebaliknya, untuk orang dengan percaya diri rendah, kegagalan merupakan pelajaran bagi mereka untuk tidak mencoba lagi hal yang sama. Pemenang akan melihat penghalang sebagai tantangan, sedangkan pecundang memandangnya sebagai jalan buntu yang harus dihindari. Skeptis akan kemampuan diri sendiri, akan membentuk perasaan takut gagal. Menariknya, hal ini tidak hanya terjadi pada mereka yang mengalami kekurangan dalam hal pengetahuan dan ketrampilan, tapi dapat terjadi juga pada mereka yang sesungguhnya memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai.

Kegagalan di masa lalu dapat menghantui pribadi dalam pembentukan rasa percaya diri. Memori akan kondisi buruk yang pernah terjadi, dapat menghambat seseorang untuk melangkah lebih lanjut. Diperlukan ketrampilan untuk melupakan trauma yang menyakitkan, dengan cara menguburkan memori yang tidak diinginkan ke tingkat bawah sadar. Ketrampilan ini perlu dilatih dalam menghapus kenangan buruk. Secara teoritis, manusia dapat memendam keinginan untuk mengenang pengalaman buruk dengan cara menutup pintu psikologis terhadap memori tersebut setiap hari selama sebulan.

Lingkungan individu pada saat lalu dan sekarang, berpengaruh kuat dalam pembentukan rasa percaya diri. Jika seseorang di dalam lingkungan keluarga yang sejak kecil dibiasakan untuk mengambil keputusan dan risiko, besar kemungkinan mereka di masa dewasa akan lebih memiliki rasa percaya diri, dibandingkan dengan mereka yang tidak dibiasakan melakukan hal tersebut. Lingkungan di tempat kerja juga dapat mempengaruhi pengembangan percaya diri karyawan. Pimpinan atau sistem yang mengintimidasi akan mempengaruhi individu pada organisasi tersebut Individu tidak berani mencoba hal yang baru di luar rutinitas. Akibat jangka panjang kondisi seperti ini dapat menenggelamkan rasa percaya diri individu.

Kesimpulannya, seseorang dapat membentuk rasa percaya diri berdasarkan dorongan dari dalam dan pengaruh dari luar. Kemauan dan keberanian adalah contoh dorongan diri. Sedangkan lingkungan yang kondusif merupakan pendongkrak kemampuan seseorang untuk memiliki rasa percaya diri.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment