Analogi permainan puzzle dalam kerja organisasi

Seperti layaknya menyusun permainan puzzle, bekerja dalam organisasi memerlukan kepingan-kepingan kontribusi dari setiap anggotanya. Gambar puzzle yang utuh merupakan hasil akhir yang awalnya berasal dari kepingan yang terpisah-pisah, dimana setiap kepingnya saat sendiri-sendiri belum memiliki kejelasan. Mereka baru berarti ketika dipadupadankan sesuai dengan gambar utuh pada contoh. Sama seperti permainan puzzle, dalam pelaksanaan tugas di organisasi juga diperlukan pemahaman mengenai pentingnya setiap bagian pekerjaan dan tahapan dalam menyusunnya.

Kepingan pada puzzle, sekecil apapun, memiliki peranan penting untuk melengkapi gambar akhir. Setiap anggota pada organisasi sudah selayaknya berperan dalam mengerjakan bagiannya, baik secara individu ataupun kelompok tugasnya. Pemimpin organisasi perlu untuk menyadari kalau bagian terpenting dalam berorganisasi adalah ketika merekrut dan menyeleksi anggota untuk bergabung dengan organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk memprakiraan peranan calon anggota ketika mereka menjadi bagian organisasi nantinya. Dengan demikian, pada saat pelaksanaan pekerjaan, setiap anggota mampu dan memiliki kemauan untuk berkontribusi.

Pada permainan puzzle selalu ada gambar final yang menjadi panduan untuk penyelesaiannya. Hal ini pada organisasi merupakan tujuan pengerjaan tugas. Bedanya, kalau di puzzle gambar akhir terlihat jelas dan nyata, sedangkan tujuan organisasi bentuknya bisa abstrak. Oleh karena itu, tujuan pengerjaan tugas perlu dibuat sekonkrit dan sejelas mungkin. Hal ini akan lebih mudah untuk pekerjaan seperti membangun rumah, karena pelaksana akan mengacu pada gambar yang dibuat oleh arsitek. Untuk pekerjaan yang hasil akhirnya bukan merupakan hal yang berwujud, hasil akhir yang dituju akan lebih menantang untuk dikonkritkan.

Terdapat langkah-langkah yang logis dalam pengerjaan puzzle. Diasumsikan dalam tulisan ini, puzzle berbentuk kotak atau bujur sangkar yang umum dijumpai pada permainan ini. Langkah awal adalah mencari sudut-sudut pada gambar, dengan mencari kepingan yang memiliki sudut sembilan puluh derajat. Langkah selanjutnya, dicari kepingan dengan tepian rata, disusun menjadi ‘bingkai’ gambar. Dilanjutkan dengan mengelompokkan kepingan-kepingan puzzle berdasarkan warna dan pola gambar. Pada bagian ini, pengerjaannya dapat dilakukan secara terpisah, untuk dilanjutkan dengan menggabungkan bagian-bagian tersebut menjadi gambar yang utuh. Sama halnya dengan pengerjaan tugas di dalam organisasi. Diperlukan penentuan pola dasar awal sebagai tumpuan pelaksanaan tugas. Selanjutnya ditetapkan batasan-batasan yang jelas untuk membingkai pengerjaan tugas. Anggota organisasi selanjutnya dibagi-bagi ke dalam kelompok yang berdasarkan atas kepakaran dan tugas sejenis. Hasil kerja kelompok-kelompok ini untuk selanjutnya digabungkan menjadi pengerjaan akhir sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan di awal.

Karena penyusunan puzzle merupakan permainan di saat senggang, maka tidak ada dimensi waktu yang menjadi tekanan dalam pengerjaannya. Hal ini tentunya berbeda dengan pengerjaan tugas di organisasi yang memiliki tenggat waktu dan konsekuensi biaya selama pengerjaannya. Perbedaan yang lain dalam mengerjakan puzzle adalah imbalan yang diperoleh hanya berupa kepuasan karena mampu menyelesaikannya. Sedangkan pada pengerjaan tugas di dalam organisasi ada imbalan ekonomis yang dikeluarkan oleh organisasi kepada para anggotanya.

Kesimpulannya, permainan puzzle memiliki kemiripan dengan pengerjaan tugas pada organisasi dalam hal: pentingnya peranan anggota dan tugas yang dikerjakan, penentuan tujuan akhir yang konkrit sebagai acuan kerja, dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Namun demikian, terdapat pula perbedaan antara permainan puzzle dan kerja di organisasi dalam hal waktu, konsekuensi biaya, dan imbalan yang diperoleh para anggotanya.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment