Dimensi kualitas individu

Secara umum, kualitas individu dapat dibagi menjadi empat dimensi: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude), dan karakter lain yang menonjol (other traits). Secara sadar ataupun tidak, seorang individu akan diukur berdasarkan keempat dimensi ini. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap adalah dimensi-dimensi yang secara umum sering diukur. Sedangkan karakter lain yang menonjol, biasanya melekat kepada pribadi orang per orang. Dengan demikian, lebih sulit untuk diperbandingkan.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Secara umum pendidikan memberi ganjaran dalam bentuk nilai untuk kemampuan akademis individu yang merupakan cerminan dari pemenuhan dimensi pengetahuan. Mereka yang memperoleh nilai lebih tinggi dianggap lebih pintar dibandingkan dengan mereka yang nilainya rendah. Pengukuran pengetahuan sifatnya kuantitatif, berdasarkan nilai yang dilambangkan dengan angka. Dimensi ini seringkali dianggap sebagai penentu baik tidaknya kualitas individu, karena angka sangat jelas membedakan antara tinggi dan rendah. Penilaian kualitas yang hanya bertumpu pada dimensi ini seringkali menyesatkan ketika menarik kesimpulan akan pribadi seseorang.

Keterampilan tidak hanya dilandaskan pada kemampuan secara nalar, tetapi juga ditunjang oleh kemampuan pengindraan dan menilai secara holistik. Dimensi keterampilan pengukurannya tidak terpaku hanya pada angka, tetapi juga non-angka. Dengan demikian, jika seseorang dinilai terampil, pengukurannya tidak bisa diukur dengan perbedaan angka secara pasti. Pengukuran keterampilan ada yang bersifat angka (seperti: waktu pengerjaan) dan non-angka (seperti: kerapihan).

Sikap adalah dimensi yang sulit diukur secara objektif. Pengaruh subjektifitas dari individu yang menilai, lebih dominan dibandingkan saat menilai dimensi yang lain. Sikap merupakan penanda bagaimana individu menyikapi dirinya, menjalin hubungan dengan orang lain, dan merespons lingkungannya. Sikap cenderung merupakan bawaan dari individu, dimana hal ini merupakan hasil interaksi antara internal diri dan latar belakang lingkungan. Jika pendidikan dan pelatihan dapat memperkuat dimensi pengetahuan dan keterampilan, dimensi sikap secara relatif lebih sulit dibentuk. Oleh karena itu, banyak perusahaan saat merekrut karyawan baru, lebih memperhatikan dimensi sikap dibandingkan dengan dimensi pengetahuan dan keterampilan. Karena mereka meyakini pengetahuan dan keterampilan, secara relatif, lebih mudah ditumbuhkembangkan, dibandingkan dengan melakukan pembentukan sikap.

Secara umum, tidak ada dimensi kualitas yang lebih penting dibanding yang lainnya. Penting atau tidaknya, sangat tergantung pada kondisi hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, sebelum kita menilai seseorang, kita perlu untuk mengkontekstualkan dia dengan kondisi lingkungan tempat dan waktu dia berinteraksi dengan orang lain.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment