Jika kita mendengar kata inovasi, kita sering menganggap kata tersebut berhubungan erat dengan teknologi. Selain itu, juga dikesankan kalau bentuk inovasi adalah sesuatu yang benar-benar baru untuk dunia, yang kerap kali disertai dengan upaya yang sifatnya trial-error. Ada juga yang menganggap kalau inovasi itu bermuatan risiko. Karena anggapan-anggapan tersebut, baik individu maupun organisasi merasa inovasi adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Kita perlu untuk mendefinisikan ulang dan memahami inovasi dari sudut pandang yang lebih sederhana.

Teknologi adalah hasil, sekaligus perantara, untuk melakukan inovasi. Tapi, bukan berarti untuk melakukan inovasi harus melalui teknologi. Jika dicermati, segala sesuatu punya peluang untuk lebih disempurnakan. Disinilah kemungkinan untuk melakukan inovasi. Dua pemicu utama inovasi adalah peluang untuk menyempurnakan sesuatu dan keinginan individu/organisasi menciptakan sesuatu yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sebagai contoh inovasi yang dilakukan tanpa mengandalkan teknologi adalah pengaturan jadwal kerja berdasarkan jumlah dan kapabilitas sumberdaya yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hasilnya adalah efisiensi tenaga kerja, sumber daya non-manusia, dan waktu. Perangkat inovasi yang paling utama adalah kemampuan daya pikir manusia. Dengan memaksimalkan kemampuan pemikiran serta motivasi untuk melakukan penyempurnaan, maka bukanlah hal yang tidak mungkin kalau kita dapat berinovasi.
Inovasi tidaklah harus merupakan suatu lompatan besar. Inovasi dapat merupakan tindakan penyempurnaan yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Probabilita menghasilkan inovasi yang revolusioner jauh lebih kecil dibandingkan dengan penyempurnaan sedikit demi sedikit yang dilakukan dari waktu ke waktu. Inovasi revolusioner lebih berisiko dan biasanya merupakan suatu upaya trial error. Jika inovasi seperti ini berhasil, maka dampaknya akan dirasakan lebih signifikan dibandingkan dengan inovasi kecil yang berkesinambungan. Sebaliknya, tidak sedikit inovasi yang awalnya dianggap sangat hebat ternyata sejalan dengan waktu meredup dan lenyap. Tidak banyak orang memiliki cukup sumberdaya untuk mewujudkan mimpi besar mereka menjadi kenyataan. Oleh karena itu, sebagian besar individu disarankan untuk melakukan inovasi dalam skala kecil tapi berkelanjutan.
Berpikir kreatif bukanlah melulu berasal dari bakat bawaan. Setiap individu diyakini memiliki kemampuan berkreasi. Sejatinya, hal ini dilandaskan pada kemauan, peka kepada masalah di seputar mereka, belajar dari lingkungan, selalu mencari solusi, dan bersedia untuk membuka mata pikiran serta perasaan. Dengan semakin sering diasahnya kemampuan kreatifitas, maka kita akan semakin mahir dalam mencari alternatif dan jalan keluar terhadap masalah sehari-hari. Secara kontekstual, kreatifitas untuk berinovasi dapat berlaku di lingkungan manapun yang dihadapi oleh individu.