Perspektif Usaha Rintisan

Usaha rintisan semakin marak belakangan ini, terutama dengan berhasilnya usaha rintisan yang mendisrupsi pasar.  Tentunya, banyak juga usaha rintisan yang gagal bertahan karena beragam penyebab.  Perlu disadari untuk mereka yang akan memulai usaha rintisan, bahwa ada perbedaan sudut pandang mengelola usaha dibandingkan dengan mengelola perusahaan besar yang sudah mapan.  Perusahaan mapan mengarahkan upaya bisnisnya ke pasar sasaran dengan skala besar, dan perlu mencermati kondisi yang kompetitif.  Cara pandang yang digunakan adalah bertolak dari produk.  Dua pilihan mendasar yang mereka lakukan adalah membuat produk yang lebih baik dibandingkan dengan produk pesaing, atau menawarkan produk yang sudah ada di pasar dengan harga yang lebih murah.  Pilihan pertama dilakukan dengan melakukan penelitian dan pengembangan produk, agar mampu memproduksi penawaran yang lebih unggul secara relatif dibandingkan para pesaing.   Jika perusahaan memilih menawarkan produk dengan harga lebih murah, upaya yang ditempuh adalah melakukan efisiensi melalui berbagai cara; seperti mendapatkan pemasok dengan harga lebih murah, melakukan alihdaya proses non-inti, atau mengelola rantai pasokan dengan lebih efisien.  Penawaran yang dilakukan melalui pilihan-pilihan tersebut bukanlah produk yang asing bagi pasar sasaran.  Pokok yang diperlukan adalah mencari masalah produk yang ada saat ini, dan bagaimana menawarkan produk yang lebih sempurna.  

Photo by Vlada Karpovich on Pexels.com

Cara pandang yang berbeda dilakukan oleh usaha rintisan, dimana berangkat dari pemenuhan kebutuhan atau pemecahan masalah untuk pasar sasaran.  Pada beberapa kondisi, konsumen yang dituju berupa ceruk pasar yang tidak menarik bagi perusahaan mapan untuk melayaninya.  Perusahaan mapan memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai pasar yang dituju, dan bagaimana agar mereka mendapatkan keuntungan dari pasar tersebut.  Sementara itu, usaha rintisan tidak punya landasan yang kuat untuk memastikan apakah gagasan bisnis yang akan dirintis akan berhasil di masa mendatang.  Jika masalah yang perlu dikedepankan pada perusahaan mapan adalah terkait dengan masalah dengan produk yang ada di pasar saat ini, usaha rintisian lebih berfokus pada masalah apa yang dihadapi oleh konsumen sasarannya.  Usaha rintisan dapat menggali masalah yang dihadapi oleh konsumen sasarannya didasarkan atas kepakaran, pengalaman, dan koneksi yang dimiliki oleh pendiri usaha rintisan tersebut.  Reid Hoffman dan Ben Casnocha mengatakan ada dua hal yang harus dimiliki oleh usaha rintisan, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memiliki kewaspadaan.  Tempatkan diri selalu berada pada kondisi beta yang permanen, agar kedua kemampuan ini terpelihara. Berada pada kondisi dalam progres seperti ini diharapkan dapat memupuk keinginan untuk selalu belajar dan mengembangkan gagasan-gagasan baru.

Eric Ries pada bukunya yang berjudul “The Lean Startup” mengusulkan untuk para pendiri usaha rintisan menggunakan pendekatan ilmiah melalui pengujian hipotesis dengan cara berbicara langsung dengan konsumen yang dituju, bukan dengan menggunakan kuesioner isian.  Hipotesis awal yang perlu diuji disebut sebagai value hypothesis yang ditujukan kepada pasar sasaran awal yang diprakirakan sebagai adopter awal.  Setelah masalah konsumen kelompok adopter awal ini diselesaikan dengan produk yang ditawarkan, dilanjutkan dengan hipotesis berikutnya, yaitu growth hypothesis untuk masuk pasar yang lebih besar.  Berdasarkan validasi pembelajaran melalui pendekatan ilmiah dan mendapatkan asumsi-asumsi dari hasil uji value hypothesis dan growth hypothesis dilakukan pengembangan produk untuk melakukan uji coba gagasan ke pasar.  Eric Ries menyarankan untuk dikembangkan minimal viable product (MVP) sesederhana mungkin.  Melalui siklus bikin-ukur-pembelajaran (build-measure-learn) yang dilakukan secara sesegera mungkin, dimungkinkan untuk melakukan penyempurnaan produk dan mendapatkan masukan berharga mengenai apa yang diinginkan oleh konsumen.  

Meskipun berbeda titik tolak dalam melakukan usaha, baik perusahaan yang mapan maupun usaha rintisan memiliki satu persamaan kunci, yaitu memperoleh laba yang memadai untuk kesinambungan usaha di masa yang lebih panjang.   Kedua bentuk perusahaan ini perlu untuk menentukan tujuan, yang menjadi dasar alasan mengapa usaha ini dibangun.  Menurut Steven Blank, kesamaan ini memprasyaratkan usaha rintisan untuk menentukan nilai-nilai inti (core values) dan pernyataan misi, seperti halnya perusahaan mapan.  Nilai-nilai inti yang otentik akan menjadi panduan bagi usaha rintisan untuk menempuh perjalanan bisnisnya.  Jika tujuan merupakan alasan dasar berbisnis, nilai-nilai inti adalah bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.  

Denise Lee Yohn dalam bukunya berjudul “Fusion” mengangkat pentingnya hubungan antara merek dan budaya internal perusahaan.  Pada usaha rintisan, gagasan dari para pendiri menjadi ruh dalam pembentukan budaya perusahaan.  Identitas merek bisa dibangun dengan menggunakan budaya perusahaan sebagai pengungkit.  Budaya perusahaan rintisan memiliki perbedaan yang menyolok dibandingkan perusahaan yang mapan.  Budaya ini membentuk apa yang disebut sebagai employee experience (EX).  Sementara itu, merek memfasilitasi terbentuknya customer experience (CX).  Menyelaraskan EX dan CX akan membentuk fusi yang membedakan penawaran yang diberikan oleh perusahan kepada konsumen.  Fusi ini dapat dilakukan pada perusahaan mapan ataupun usaha rintisan.  Namun demikian, penerapannya lebih mudah dilakukan di usaha rintisan yang organisasinya cenderung tidak hirarkis.  

Perusahaan mapan dan usaha rintisan memiliki perbedaan dan persamaan cara pandang dalam menjalankan bisnis.  Perbedaannya ada di titik awal untuk melakukan bisnis.  Steve Blank pada bukunya “The Four Steps to The Epiphany” menyatakan bahwa perusahaan mapan mengarah pada proses pengembangan produk, sedangkan usaha rintisan pada proses pengembangan pelanggan.  Karena kondisi usaha rintisan yang tidak memiliki informasi selengkap perusahaan yang mapan, perlu dilakukan pendekatan ilmiah seperti yang disarankan oleh Eric Ries.  Persamaan antara menjalankan perusahaan mapan dan usaha rintisan adalah dalam penentuan tujuan, menentukan nilai-nilai inti, dan pernyataan misi.  Persamaan yang lain adalah dimungkinkannya untuk membuat fusi antara EX dengan CX sebagai pembentuk identitas dan keterikatan antara perusahaan dan pelanggannya.  Karena organisasi yang lebih ringkas, usaha rintisan lebih memiliki keunggulan untuk menerapkan fusi ini.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment