Menyelaraskan Pola Pikir

Beberapa orang mempercayai bahwa kemampuan diri ada batasnya, dikarenakan dirinya dan orang di sekitarnya mengonfirmasi karakter yang melekat pada setiap pribadi.  Bentuk pelabelan seperti ini berpotensi menghambat perkembangan kemampuan diri.  Individu yang meyakini ini memilih untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan label yang diberikan.  Semisal, seorang yang merasa tidak mampu untuk bermain instrumen musik, maka dia akan beranggapan bahwa dia tidak berbakat di musik.  Keyakinan ini semakin diperparah ketika lingkungan sosialnya juga menyatakan ketidakberbakatan ini secara eksplisit.  Konfirmasi yang berulang-ulang akan semakin membuat seseorang menghindari mencoba segala sesuatu yang bukan bidangnya.  Pada konteks ini, pola pikir mengendalikan perilaku.

Photo by Skitterphoto on Pexels.com

Ada dua pola pikir yang diidentifikasikan oleh Carol Dweck di buku berjudul “Mindset”, yaitu pola pikir tetap (fixed mindset), dan pola pikir bertumbuh (growth mindset).  Pola pikir yang pertama membuat pribadi meyakini bahwa mereka terlahir dengan bakat pada bidang tertentu, tetapi tidak di bidang yang lainnya.  Mereka yang punya pola pikir ini akan berfokus pada bakat yang diyakininya sebagai jalan hidupnya.  Sementara itu, pola pikir yang kedua percaya bahwa mereka bisa ahli di bidang apa saja yang mereka inginkan, jika mereka berusaha keras.  Mereka dengan pola pikir bertumbuh menyambut masalah-masalah untuk menjadi ahli di bidang yang mereka ingin tekuni.  Masalah-masalah tersebut bagi mereka adalah tantangan.  Mereka yang menganut pola pikir bertumbuh menyadari bahwa otak dapat dilatih seperti otot yang dilatih dengan olahraga.  Menurut mereka, pola pikir yang bertumbuh adalah suatu pemenuhan diri.  

Setiap orang bisa menjadi ahli di bidang yang dia inginkan, selama dia punya kemauan untuk bekerja keras menguasai keahlian tersebut.  Pola pikir bertumbuh merupakan tumpuan untuk memupuk keahlian yang tidak akan berakhir.  Keahlian bukanlah suatu tujuan, tetapi suatu filosofi untuk terus menerus belajar di sepanjang usia.  Di buku “Mastery” tulisan George Leonard, disampaikan bahwa membentuk keahlian adalah perjalanan hidup dengan memikirkan ulang motivasi untuk mempelajari keterampilan baru; berupaya keras untuk membentuk talenta (bukan karena untuk dipuji); menghargai pentingnya proses yang memerlukan kesabaran dan ketekunan; menggeser pola pikir dari yang tetap ke bertumbuh; dan menyikapi pembelajaran sebagai penjelajahan yang manfaatnya diperoleh di sepanjang jalan.

Banyak yang mengatakan bahwa seseorang akan menjadi ahli dan berhasil jika mengerjakan sesuatu sesuai dengan hal yang diminatinya.  Cal Newport di buku “So Good They Can’t Ignore You” menyanggah hal ini.  Berdasarkan pengamatannya, sering terjadi mereka yang bekerja berdasarkan gairah (passion) personal, mengalami ketidakpuasan.  Alasan yang mendasar adalah jarangnya peluang kecocokkan antara gairah dengan profesi.  Bukannya tidak ada, tapi sangat langka mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gairah pribadi yang sesungguhnya.  Cal Newport menyarankan agar jangan lakukan apa yang kamu suka, tapi belajar menyukai apa yang kamu lakukan.  Dengan semakin banyaknya pengalaman bekerja di suatu bidang, semakin besar peluang seseorang akan menikmati pekerjaannya, dan menjadi semakin terampil di bidang tersebut.  Pola pikir bertumbuh memfasilitasi pembelajaran yang mengarah kepada keahlian dalam kondisi ini.  Gairah akan terbentuk sejalan dengan berjalannya waktu.  

Berdasarkan teori determinasi diri, ada tiga sumber motivasi intrinsik, yaitu: otonomi untuk memegang kendali, kompeten pada hal yang dikerjakan, dan keterhubungan dengan orang lain yang terkait dengan keahlian yang ditekuni.  Dibandingkan dengan menggunakan pola pikir berdasarkan gairah yang menginginkan pekerjaan idaman, Cal Newport menyarankan untuk menerapkan pola pikir pengrajin (craftsman) yang lebih mementingkan nilai apa yang bisa diberikan kepada pekerjaan yang dilakukan.  Pola pikir pengrajin ini mengedepankan kualitas, melalui praktek yang secara sengaja ditujukan untuk merentang kemampuan diri.  Hasilnya disebut sebagai modal karir, berupa keterampilan yang langka dan bernilai.  Keterampilan unik yang melekat pada pribadi ini akan memperkuat sumber motivasi intrinsik otonomi untuk memegang kendali.  Tahap berikutnya setelah proses pembentukkan modal karir berlangsung adalah melakukan eksplorasi misi karir.  Misi karir ini berkaitan dengan peluang untuk mengembangkan modal karir.  

Idealnya, pola pikir berkembang tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri.  The Arbinger Institute menawarkan konsep pola pikir berorientasi keluar (outward mindset).  Pola pikir ini mempertimbangkan juga kebutuhan dan apa yang dirasakan oleh orang lain.  Individu perlu menelaah apa yang dia butuhkan dari orang lain, dan apa yang orang lain butuhkan dari dia.  Langkah yang dilakukan adalah mencari tau kebutuhan orang lain, menyesuaikan upaya yang individu lakukan, dan mengukur hasilnya.  Perlu dibuat skenario-skenario yang bertujuan memenuhi kebutuhan resiprokal ini.  

Tulisan ini mengangkat pentingnya menyelaraskan pola pikir.  Berpindah dari pola pikir tetap ke pola pikir bertumbuh, akan memberikan kita pemahaman mengenai kemungkinan untuk menjadi ahli di bidang yang pada awalnya tidak masuk ke dalam daftar bakat yang kita miliki.  Kerja keras dan ketekunan adalah prasyarat yang harus dilakukan untuk menerapkan pola pikir bertumbuh.  Keahlian yang terbentuk bukanlah merupakan tujuan akhir, tetapi suatu penjelajahan yang terus menerus, selaras dengan prinsip pembelajaran berkelanjutan.  Secara prakteknya, keahlian yang dibentuk tidak harus sesuai dengan minat atau gairah yang kita miliki, karena kecocokkan antara kedua hal tersebut dengan dunia profesional sangatlah langka.  Dengan menggunakan pola pikir pengrajin, kita mencoba menyukai apa yang dikerjakan akan mengantarkan kita menjadi ahli dalam menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang baik.  Pola pikir pengrajin ini lama kelamaan akan membentuk keahlian yang merupakan modal karir.  Agar keahlian bermanfaat untuk pihak lain, perlu diterapkan pola pikir yang berorientasi keluar diri.  Kekuatan pola pikir yang kita miliki akan semakin baik dan semakin kuat saat bertujuan untuk mencapai sasaran secara kolektif.

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment