Mengasah Kreativitas

Sejatinya, setiap orang terlahir dengan kemampuan kreatif.  Seiring dengan tereksposnya seseorang dengan asumsi-asumsi yang dihantarkan oleh lingkungan sosial dan lingkungan akademis, kreativitas seolah mendapatkan tekanan untuk bertumbuh.  Penilaian berdasarkan benar dan salah yang sifatnya absolut, membuat pribadi berupaya untuk menjawab dengan benar dan menghindari jawaban yang salah.  Seolah tidak ada jalan lain untuk menangani suatu permasalahan.  Seperti halnya otot yang dibentuk melalui olahraga di pusat kebugaran, otot kreativitas juga bisa dibentuk melalui latihan.  Perlu disadari bahwa kreativitas tidak hanya dibatasi pada kreasi yang berhubungan dengan seni, tetapi juga terkait dengan pekerjaan yang non-seni.  

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Terhambatnya pengasahan kreativitas adalah karena pendekatan pendidikan yang awalnya bertujuan untuk memenuhi tenaga kerja untuk kegiatan industri.  Pengetahuan yang dikemas dalam kurikulum dan rencana pengajaran berisikan standar yang harus dipenuhi, agar individu siap untuk bekerja setelah usai masa belajarnya.  Pendidikan didasarkan atas proses yang mengedepankan konformitas, pemenuhan persyaratan, dan proses linear (Robinson, 2015).  Standardisasi ini memaksakan manusia yang beragam menjadi seragam.  Standar ini menekan kreativitas, dengan tujuan tidak terjadi deviasi yang dianggap bisa mengganggu atau memperlambat tercapainya tujuan pendidikan.  

Pada blog 9 Agustus 2020 lalu, dibahas mengenai pola pikir bertumbuh (growth mindset) yang bisa membuka peluang untuk setiap orang menguasai bidang yang diminatinya.  Mereka dengan pola pikir ini tidak pasrah dengan asumsi bahwa setiap orang memiliki bakat bawaan yang tidak bisa diubah.  Diperlukan keberanian untuk melakukan eksplorasi kreativitas dengan menerapkan pola pikir bertumbuh ini.  Penjelajahan diri baru yang berbeda dengan diri yang ada saat ini, melibatkan pergeseran persepsi individu mengenai diri sendiri, dan persepsi individu terhadap dunia.  Kreativitas bukanlah sesuatu yang bersifat acak, atau bersifat ilham yang mendadak hadir di pikiran.  Proses kreatif dapat didekati dengan cara yang lebih terstruktur melalui suatu panduan penentu arah.  Sepertinya umumnya rencana, proses kreatif tidak mungkin selalu berjalan sesuai rencana.  Kegagalan demi kegagalan akan dialami.  Perlakukanlah kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran, untuk hasil yang lebih baik di depannya.  Jangan hanya mengapresiasi hasil akhir dari sebuah proses kreativitas, tetapi juga kenali dan pelajari kegagalan-kegagalan apa yang dialami di sepanjang proses tersebut.  Orang kreatif harus berani untuk mengambil risiko, bersiap untuk menghadapi kegagalan, dan bangkit lagi.    

Menumbuhkembangkan gagasan yang aneh tidak harus dimulai dari nol.  Kreativitas tidak berarti harus menghasilkan sesuatu yang baru untuk dunia.  Fungsi kreativitas adalah sebagai menambah nilai dari sesuatu yang sudah ada.  Salah satu cara mengembangkan kreativitas adalah dengan mengatur ulang gagasan yang sudah ada, menjadi bentuk yang berbeda.  Dahulu, restoran pizza memiliki armada pengantaran pesanan sendiri.  Mereka berinvestasi motor dan menggaji karyawan untuk bagian pengantaran ini.  Fungsi pengantaran tetap ada saat ini, tetapi terjadi pergeseran perlakuan biaya operasional restoran pizza: dari biaya tetap menjadi biaya variabel.  Pengantaran pesan sekarang dilakukan secara kerjasama dengan pemilik motor.  Biaya yang dibayarkan adalah untuk setiap pesanan yang diantarkan.  Alternatif lain untuk berkreasi di dalam bisnis adalah dengan memperkenalkan gagasan awam ke dalam konteks yang belum pernah dilakukan sebelumnya.  Bisnis berbasis ekonomi berbagi, seperti airbnb, adalah contohnya.  

Pola kerja inovatif berbeda dengan pola kerja rutin.  Individu perlu untuk mengetahui kedua pola kerja ini.  Robert Sutton (2007) menyatakan bahwa kerja rutin mementingkan ketepatan, dengan sebaik mungkin melaksanakan gagasan yang sudah mapan.  Kerja inovatif menekankan pada eksperimen, yang berpeluang untuk gagal.  Perlu dibedakan perlakuan standar penilaian untuk kedua pola kerja ini.  Kerja rutin lebih mudah diprediksi dan memiliki target yang jelas.  Sementara itu, kerja inovatif cenderung lebih lambat, karena diperlukan upaya untuk berpikir secara independen, dan targetnya tidak didefinisikan dengan jelas.  Organisasi tidak disarankan menghukum kegagalan karyawan saat melakukan pola kerja inovatif, tetapi hukumlah mereka yang tidak bertindak apa-apa.  Tentunya organisasi perlu untuk melakukan prakiraan ambang kegagalan, dan konsekuensi biaya yang mungkin terjadi, sebagai toleransi atas kesalahan.  

Gagasan kreatif tidak menjadi apa-apa saat hanya ada di dalam pikiran.  Kesenjangan antara mengetahui dengan melaksanakan harus dipersempit.  Pertimbangkan untuk mewujudkan gagasan kreatif secara berkelompok.  Tindakan kreatif tidak harus dilakukan oleh satu orang.  Bekerja dengan orang lain, membuat beban stress dapat dibagi.  Di samping itu, interaksi antar individu di dalam kelompok dimungkinkan menimbulkan kreativitas yang lebih segar.  Anggota kelompok dengan latar belakang yang beragam berpeluang untuk memperkaya kreativitas, dengan mengurangi pengaruh groupthink yang cenderung homogen dan monoton.

Setiap orang memiliki kapasitas kreatif yang dapat dikembangkan, dan pada akhirnya memberikan alternatif solusi.  Kreativitas bukan eksklusif untuk profesi yang terkait dengan seni saja.  Pola pendidikan yang terstandardisasi mengekang perkembangan kreativitas para pelajar, sehingga otot kreativitas mereka tidak dilatih dengan pantas.  Asumsi bahwa hasil kreativitas harus sesuatu yang baru untuk dunia, harus disingkirkan.  Berbagai pendekatan untuk proses kreatif dimungkinkan dengan berdasarkan gagasan yang sudah ada saat ini.  Hal yang terpenting di sini adalah kreativitas yang memberi nilai tambah, bukan kebaruannya.  Pola kerja yang berbeda pada proses inovasi memerlukan penilaian yang berbeda dengan proses kerja rutin yang presisi.  Perlunya memberikan toleransi atas kegagalan pada pola kerja inovasi yang mengutamakan eksperimen, perlu menjadi pertimbangan organisasi.  Untuk mempercepat dan mendukung agar gagasan kreatif menjadi lebih komprehensif, perlu dipertimbangkan pembentukkan kelompok yang kolaboratif.   

Published by Adhibaskara Consulting

Learning addict, World explorer, Lecturer

Leave a comment