Pada 9 September 2020, Netflix merilis film dokumenter The Social Dilemma. Film mengenai kekhawatiran dan testimoni para nara sumber yang mantan pegawai dari perusahaan yang terkait dengan jejaring sosial terkemuka, seperti Google, Twitter, Instagram, Facebook, YouTube, Firefox, dan Apple. Para akademisi dan organisasi non-pemerintah juga memberikan pandangan mereka mengenai akibat negatif media sosial. Lima hari sebelum dirilisnya The Social Dilemma, Prime Video merilis musim kedua The Boys, dengan diawali tiga episode pembuka. Setelah tiga episode pembuka, lima episode berikutnya diecer rilis di tiap Jumat sampai 9 Oktober 2020. The Boys mengisahkan para superhero yang dikendalikan oleh korporasi Vought dalam satu grup yang disebut sebagai The Seven. Grup pahlawan super yang menyerupai Avanger atau Justice League. Meskipun dua film ini berbeda genre, tetapi ada kemiripan tema mengenai kekuatan korporasi dalam mengendalikan dunia. Isu yang diangkat di The Social Dilemma ada di dunia nyata, sedangkan kekejian korporasi di The Boys hanyalah fiksi.

Para nara sumber di The Social Dilemma menyatakan bahwa pendekatan yang dilakukan dalam membangun platform media sosial tidak melulu bertumpu pada teknologi, tetapi juga melibatkan disiplin ilmu psikologi yang bertujuan untuk mempengaruhi dan menimbulkan adiksi kepada para pengguna. Kelekatan pengguna pada gawai diilustrasikan dengan interaksi keluarga yang terganggu karena setiap anak menggunakannya, bahkan di saat makan malam keluarga. Kemampuan sihir algoritma disajikan dengan tiga orang yang menyodorkan content yang relevan untuk tokoh anak laki-laki, yang lama kelamaan menjerumuskannya pada gerakan radikal. Sementara itu, tokoh anak perempuan berkeinginan untuk tampil sempurna di media sosial. Walaupun menuai pujian dari banyak orang, tetapi dia terluka dengan hanya satu komentar negatif mengenai telinganya. Seketika si anak perempuan mereka dirinya tidak sempurna. Suatu ilustrasi yang terkait alasan meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja seiring dengan semakin merebaknya penggunaan sosial media.
Penonton The Social Dilemma digiring oleh pernyataan-pernyataan nara sumber dari bagaimana adiksi diciptakan oleh para pengembang platform media sosial, hingga efek memecah belah yang timbul di tingkat politik di beberapa negara. Suatu akibat mengerikan yang tidak pernah dibayangkan oleh para nara sumber saat terlibat dalam pengembangan platform media sosial. Nuansa sesal tercermin dari pernyataan mereka. Sementara itu, para akademisi mengajukan bukti-bukti keburukan yang difasilitasi oleh media sosial. Beberapa dari mereka juga mengesankan terperangkapnya korporasi media sosial pada pemasukan finansial yang dihasilkan karena derasnya lalu-lintas di platform mereka, terlepas benar tidaknya muatan informasi yang disampaikan. Meskipun beberapa pendiri media sosial menyatakan bahwa plaform mereka ditujukan untuk kebaikan, tetapi mereka terdiam ketika ditanyakan apakah dimungkinkan teknologi memisahkan kabar benar dengan kabar palsu yang berdampak negatif pada masyarakat. Ketakutan efek buruk media sosial yang semakin memuncak mendekati akhir film dinetralisir dengan harapan agar ada peraturan yang lebih tegas untuk sosial media, sehingga sosial media dapat berfaedah untuk orang banyak. Mengembalikan sosial media menjadi teman.
Kekuatan korporasi Vought dalam mengelola superhero untuk menekan angka kriminalitas domestik dan internasional tidak hanya terhenti dengan memberikan layanan berbayar kepada para pemangku kepentingan, tetapi juga merambah ke budaya populer dengan menampilkan anggota The Seven sebagai bintang iklan, menjadi bintang tamu untuk acara televisi, sampai ke kegiatan sosial untuk membangun citra positif mereka. Bagi masyarakat umum, The Seven adalah teman bagi mereka dalam memerangi kejahatan. Kondisi berbalik saat terungkap bahwa korporasi tersebut menggunakan formula Compound V yang meracuni anak kecil, dengan tujuan membuat mereka memiliki kekuatan super. Tokoh Billy Butcher (Karl Urban) yang memiliki dendam pribadi dengan Homelander (Anthony Starr) mengumpulkan teamnya untuk melawan para “supe” yang dipuja-puja orang banyak. Kebusukan Vought sudah diketahui oleh Butcher sejak lama, namun dia kesulitan untuk mendapatkan bukti kejahatan korporasi ini dan para superhero ciptaannya. Dengan bantuan Hughie Campbell (Jack Quaid), Mother’s Milk (Laz Alonso), dan Frenchie (Tomer Capon); Butcher berupaya mencari bukti-bukti yang mengarah pada penghancuran reputasi Vought sebagai korporasi yang berkesan peduli dengan kepentingan masyarakat. Kebohongan Vought dan sisi gelap para superhero satu per satu dibuka di sepanjang musim pertama The Boys. Kehadiran tokoh Stormfront (Aya Cash) di musim kedua semakin memperjelas sejarah jahat Vought yang sudah berlangsung puluhan tahun. Tokoh-tokoh superhero yang biasanya ditampilkan sebagai manusia tanpa cela, diputarbalikkan di serial yang pertama kali ditayangkan pada 26 Juli 2019 ini. Posisi superhero sebagai teman masyarakat, digambarkan sebagai tokoh yang abusif dengan kekuatan mereka. Mereka bahkan mengakibatkan matinya banyak orang, yang ditutupi dengan kekuatan hubungan masyarakat.
The Social Dilemma dan The Boys berupaya untuk mengungkapkan sisi buruk media sosial dan superhero, yang selama ini dianggap sebagai teman untuk banyak orang. Pemutarbalikan logika mengenai kebaikan kedua hal ini menyadarkan bahwa tidak pernah ada satupun yang sempurna, baik di dalam dunia nyata maupun di dunia fiksi. Kemampuan hubungan masyarakat yang kuat dibuktikan berhasil membentuk persepsi positif yang diharapkan oleh korporasi media sosial dan para superhero. Suatu upaya untuk menguburkan peran lawan, dan menguatkan peran teman.