Sejatinya, ada empat elemen utama yang menjadi prioritas setiap individu untuk dikembangkan. Empat elemen ini merepresentasikan sisi yang dimiliki individu, dimana mereka secara logis dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi. Robert Glazer di buku “Elevate: Push Beyond Your Limits and Unlock Success in Yourself and Others” mengidentifikasikan elemen ini sebagai kapasitas. Sesuatu yang diartikan sebagai: kemampuan atau kuasa untuk melakukan, mengalami, atau memahami sesuatu. Glazer mengutip David Viscott: “keberanian untuk memulai merupakan prasyarat untuk keberanian mencapai sukses.” Seseorang bisa mencapai sukses dengan mengubah niat dari “ingin” (want) menjadi “akan” (going to). Memulai adalah kunci untuk mengaktifkan empat kapasitas ini.

Empat kapasitas ini adalah spiritual, intelektual, fisikal, dan emosional. Glazer merinci keempat kapasitas ini sebagai berikut:
- Kapasitas spiritual adalah memahami siapa dirimu, apa yang kamu paling inginkan, dan standar kehidupan dari hari ke hari yang kamu inginkan.
- Kapasitas intelektual adalah soal bagaimana kamu menyempurnakan kemampuanmu untuk berpikir, belajar, berencana, dan bertindak dengan disiplin.
- Kapasitas fisikal adalah kesehatanmu, kesejahteraanmu, dan kinerja fisikmu.
- Kapasitas emosional adalah bagaimana reaksimu atas situasi yang menantang, pola pikir emosionalmu, dan mutu hubunganmu dengan orang lain.
Keempat kapasitas ini diandaikan sebagai ruang-ruang, dimana setiap ruang akan selalu bocor dan perlu untuk diisi ulang. Kepekaan dalam menyadari adanya ketidakseimbangan merupakan cara untuk selalu berada pada jalur penyempurnaan dari waktu ke waktu.
Dari keempat kapasitas ini, mesin pendorongnya adalah spiritual. Nilai inti menjadi pemandu untuk kapasitas ini. Mengerjakan sesuatu yang selaras dengan nilai inti yang diyakini mampu memberikan energi untuk bergerak. Sementara itu, maksud inti menjadi penentu arah untuk mencapai tujuan. Perlu dipahami juga alasan mengapa tujuan ini penting. Glazer menganjurkan agar mengingat masa-masa dimana kamu melakukan sesuatu dengan baik, dan masa-masa dimana kamu perlu berjuang. Cari kesamaan dari situasi-situasi ini, tuliskan kesamaan tersebut, dan perhatikan kata-kata atau konsep-konsep yang memiliki kesamaan.
Peningkatan kapasitas intelektual dimulai dengan keyakinan bahwa kamu mampu untuk melakukannya. Perlu adanya komitmen untuk melakukan peningkatan. Glazer mengutip termin pola pikir bertumbuh (growth mindset) dari Carol Dweck. Kontras antara pola pikir berkembang dengan pola pikir tetap (fixed mindset) dijabarkan Glazer secara grafis. Intinya, pola pikir tetap bersifat statis dengan anggapan sebagai bawaan lahir dan tidak bisa berubah, sedangkan pola pikir bertumbuh meyakini bahwa setiap orang punya kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kapasitas intelektualnya. Komitmen sebagai pembelajar seumur hidup sangat berkorelasi dengan pembangunan kapasitas intelektual ini. Selain komitmen, dalam pembentukan kapasitas intelektual diperlukan sikap yang proaktif; penetapan tujuan jangka pendek dan jangka panjang; dan pembentukkan rutinitas, kebiasaan, dan akuntabilitas.
Kapasitas fisikal bisa berperan sebagai akselerator atau penghambat dalam membangun kapasitas lainnya. Saat kondisi fisik prima, akan hadir daya tahan dan kemampuan untuk bangkit dari kegagalan. Proses pembelajaran juga akan lebih cepat. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam membangun kapasitas fisikal adalah memelihara kesehatan dan kebugaran; tidur yang memadai dan mengelola stress; menerima persaingan sebagai upaya untuk peningkatan “ranah permainan” ke level yang lebih tinggi; dan membangun kemampuan untuk bangkit dari kegagalan.
Pantang menyerah adalah cara yang ampuh untuk meyakinkan diri mengendalikan nasib diri sendiri. Kualitas ini adalah yang menjadi modal untuk membangun kapasitas emosional. Hal yang paling mendasar adalah mengetahui apa yang diinginkan, dan kerahkan energi untuk menggapainya. Keluar dari ketidaknyamanan dan menghadapi tantangan adalah upaya untuk melawan keyakinan akan keterbatasan diri. Glazer mengutip Dr. Abdul-Malik Muhammad yang memiliki formula untuk memantik perubahan kepada orang lain, yaitu koneksi + tantangan = perubahan.
Selain berani untuk berubah, dalam membangun kapasitas emosional diperlukan sikap positif dan rasa bersyukur; dan memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain. Sikap positif timbul karena individu mengetahui dengan jelas apa yang penting untuk mereka. Bersyukur punya relevansi yang kuat dengan perasaan bahagia. Perasaan marah dan ketakutan berfokus pada diri, sedangkan perasaan bersyukur menggeser fokus ke hal yang melampaui diri sendiri. Hubungan yang bermakna dibuktikan oleh berbagai studi sebagai hal yang membahagiakan dan memperpanjang umur. Formula hidup yang sukses jika dijabarkan secara matematis adalah “apa yang kita ketahui pangkat siapa yang kita kenal (Apasiapa)”. Pengetahuan akan lebih bernilai jika kita terhubung dengan orang lain untuk menerapkannya.
Secara sadar atau tidak, kita semua dianugerahi Sang Pencipta dengan empat kapasitas yang dijabarkan di buku Elevate. Masalah utama adalah apakah kita bisa secara jelas melakuka identifikasi empat kapasitas ini sebagai suatu hal yang bisa ditumbuhkembangkan ke tingkatan yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Keseimbangan untuk mengisi ruang di empat kapasitas ini bukanlah suatu hal yang bisa dikerjakan dalam suatu waktu. Harus ada komitmen untuk melanjutkan peningkatan kapasitasnya di sepanjang usia. Menjadi manusia yang lebih baik dari masa sebelumnya merupakan indikator kemajuan yang bisa kita ukur. Kebiasaan yang perlu dipupuk adalah apa yang diuraikan oleh Hal Elrod di bukunya “The Miracle Morning” sebagai SAVERS. Buku yang dikutip di dalam buku Glazer ini merupakan pembentukan rutinitas pagi hari, yaitu Silence (berhening dengan meditasi), Affirmations (penguatan), Visualization (visualisasi), Exercising(berolahraga), Reading (membaca), dan Scribing (menulis agenda). Pembentukan kebiasaan ini merupakan katalisator untuk membangun empat kapasitas: spiritual, intelektual, fisikal, dan emosional.








