Empat Kapasitas Diri

Sejatinya, ada empat elemen utama yang menjadi prioritas setiap individu untuk dikembangkan. Empat elemen ini merepresentasikan sisi yang dimiliki individu, dimana mereka secara logis dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.  Robert Glazer di buku “Elevate: Push Beyond Your Limits and Unlock Success in Yourself and Others” mengidentifikasikan elemen ini sebagai kapasitas.  Sesuatu yang diartikan sebagai: kemampuan atau kuasa untuk melakukan, mengalami, atau memahami sesuatu.  Glazer mengutip David Viscott: “keberanian untuk memulai merupakan prasyarat untuk keberanian mencapai sukses.”  Seseorang bisa mencapai sukses dengan mengubah niat dari “ingin” (want) menjadi “akan” (going to).  Memulai adalah kunci untuk mengaktifkan empat kapasitas ini.

Photo by Kris Lucas on Pexels.com

Empat kapasitas ini adalah spiritual, intelektual, fisikal, dan emosional. Glazer merinci keempat kapasitas ini sebagai berikut:

  1. Kapasitas spiritual adalah memahami siapa dirimu, apa yang kamu paling inginkan, dan standar kehidupan dari hari ke hari yang kamu inginkan.
  2. Kapasitas intelektual adalah soal bagaimana kamu menyempurnakan kemampuanmu untuk berpikir, belajar, berencana, dan bertindak dengan disiplin.
  3. Kapasitas fisikal adalah kesehatanmu, kesejahteraanmu, dan kinerja fisikmu.
  4. Kapasitas emosional adalah bagaimana reaksimu atas situasi yang menantang, pola pikir emosionalmu, dan mutu hubunganmu dengan orang lain.

Keempat kapasitas ini diandaikan sebagai ruang-ruang, dimana setiap ruang akan selalu bocor dan perlu untuk diisi ulang.  Kepekaan dalam menyadari adanya ketidakseimbangan merupakan cara untuk selalu berada pada jalur penyempurnaan dari waktu ke waktu.

Dari keempat kapasitas ini, mesin pendorongnya adalah spiritual.  Nilai inti menjadi pemandu untuk kapasitas ini.  Mengerjakan sesuatu yang selaras dengan nilai inti yang diyakini mampu memberikan energi untuk bergerak.  Sementara itu, maksud inti menjadi penentu arah untuk mencapai tujuan.  Perlu dipahami juga alasan mengapa tujuan ini penting.  Glazer menganjurkan agar mengingat masa-masa dimana kamu melakukan sesuatu dengan baik, dan masa-masa dimana kamu perlu berjuang.  Cari kesamaan dari situasi-situasi ini, tuliskan kesamaan tersebut, dan perhatikan kata-kata atau konsep-konsep yang memiliki kesamaan.

Peningkatan kapasitas intelektual dimulai dengan keyakinan bahwa kamu mampu untuk melakukannya.  Perlu adanya komitmen untuk melakukan peningkatan.  Glazer mengutip termin pola pikir bertumbuh (growth mindset) dari Carol Dweck.  Kontras antara pola pikir berkembang dengan pola pikir tetap (fixed mindset) dijabarkan Glazer secara grafis.  Intinya, pola pikir tetap bersifat statis dengan anggapan sebagai bawaan lahir dan tidak bisa berubah, sedangkan pola pikir bertumbuh meyakini bahwa setiap orang punya kemampuan untuk belajar dan meningkatkan kapasitas intelektualnya.  Komitmen sebagai pembelajar seumur hidup sangat berkorelasi dengan pembangunan kapasitas intelektual ini.  Selain komitmen, dalam pembentukan kapasitas intelektual diperlukan sikap yang proaktif; penetapan tujuan jangka pendek dan jangka panjang; dan pembentukkan rutinitas, kebiasaan, dan akuntabilitas.  

Kapasitas fisikal bisa berperan sebagai akselerator atau penghambat dalam membangun kapasitas lainnya.  Saat kondisi fisik prima, akan hadir daya tahan dan kemampuan untuk bangkit dari kegagalan.  Proses pembelajaran juga akan lebih cepat.  Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam membangun kapasitas fisikal adalah memelihara kesehatan dan kebugaran; tidur yang memadai dan mengelola stress; menerima persaingan sebagai upaya untuk peningkatan “ranah permainan” ke level yang lebih tinggi; dan membangun kemampuan untuk bangkit dari kegagalan.  

Pantang menyerah adalah cara yang ampuh untuk meyakinkan diri mengendalikan nasib diri sendiri.  Kualitas ini adalah yang menjadi modal untuk membangun kapasitas emosional.  Hal yang paling mendasar adalah mengetahui apa yang diinginkan, dan kerahkan energi untuk menggapainya.  Keluar dari ketidaknyamanan dan menghadapi tantangan adalah upaya untuk melawan keyakinan akan keterbatasan diri.  Glazer mengutip Dr. Abdul-Malik Muhammad yang memiliki formula untuk memantik perubahan kepada orang lain, yaitu koneksi + tantangan = perubahan.  

Selain berani untuk berubah, dalam membangun kapasitas emosional diperlukan sikap positif dan rasa bersyukur; dan memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.  Sikap positif timbul karena individu mengetahui dengan jelas apa yang penting untuk mereka.  Bersyukur punya relevansi yang kuat dengan perasaan bahagia.  Perasaan marah dan ketakutan berfokus pada diri, sedangkan perasaan bersyukur menggeser fokus ke hal yang melampaui diri sendiri.  Hubungan yang bermakna dibuktikan oleh berbagai studi sebagai hal yang membahagiakan dan memperpanjang umur.  Formula hidup yang sukses jika dijabarkan secara matematis adalah “apa yang kita ketahui pangkat siapa yang kita kenal (Apasiapa)”. Pengetahuan akan lebih bernilai jika kita terhubung dengan orang lain untuk menerapkannya.  

Secara sadar atau tidak, kita semua dianugerahi Sang Pencipta dengan empat kapasitas yang dijabarkan di buku Elevate.  Masalah utama adalah apakah kita bisa secara jelas melakuka identifikasi empat kapasitas ini sebagai suatu hal yang bisa ditumbuhkembangkan ke tingkatan yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.   Keseimbangan untuk mengisi ruang di empat kapasitas ini bukanlah suatu hal yang bisa dikerjakan dalam suatu waktu.  Harus ada komitmen untuk melanjutkan peningkatan kapasitasnya di sepanjang usia.  Menjadi manusia yang lebih baik dari masa sebelumnya merupakan indikator kemajuan yang bisa kita ukur.  Kebiasaan yang perlu dipupuk adalah apa yang diuraikan oleh Hal Elrod di bukunya “The Miracle Morning” sebagai SAVERS.  Buku yang dikutip di dalam buku Glazer ini merupakan pembentukan rutinitas pagi hari, yaitu Silence (berhening dengan meditasi), Affirmations (penguatan), Visualization (visualisasi), Exercising(berolahraga), Reading (membaca), dan Scribing (menulis agenda).  Pembentukan kebiasaan ini merupakan katalisator untuk membangun empat kapasitas: spiritual, intelektual, fisikal, dan emosional.

Menjadi Insan Pembelajar Melalui Ultralearning

Untuk memulai mempelajari hal yang baru diperlukan suatu strategi agar tujuan pembelajaran tercapai.  Scott H Young dalam bukunya “Ultralearning: Accelerate Your Career, Master Hard Skills and Outsmart the Competition” menyarikan sembilan prinsip yang menjadi bekal para pembelajar untuk mendapatkan pengetahuan ataupun keterampilan baru.  Buku yang diterbitkan pada 6 Agustus 2019 ini memberikan bukti-bukti empiris dari tokoh-tokoh yang dianggap dunia sebagai jenius di bidang masing-masing.  Scott memberikan contoh setiap tokoh untuk setiap prinsip yang disarankannya.  Dari Benjamin Franklin dari Amerika yang sudah dikenal sebagai politikus, wirausaha, penemu, dan diplomat; sampai Nigel Richards dari New Zealand yang menjuarai permainan Scrabble di World Scrabble Championships yang menggunakan bahasa Perancis, padahal Nigel Richards sama sekali tidak menggunakan bahasa Perancis.  Contoh tokoh lain yang dikedepankan adalah Vincent Van Gogh yang lambat memulai karirnya sebagai pelukis, namun tidak pernah berhenti untuk melakukan eksperimen.  Eksperimen adalah prinsip ke-sembilan yang dianjurkan oleh Scott.  

Photo by Pixabay on Pexels.com

Agar pembaca yakin akan keberhasilan sembilan prinsip yang ditawarkan Scott di buku ini, dia juga membuktikan bahwa dirinya sukses menerapkan prinsip-prinsip ini saat belajar materi akademis di MIT, belajar bahasa asing non-Inggris, dan belajar menggambar.  Meskipun prinsip sebetulnya secara logis sudah diketahui sebelumnya oleh para pembelajar, Scott merangkum dengan argumen yang menguatkan pentingnya sembilan hal ini untuk menjadi perhatian.  Tiap ilustrasi yang menyertai setiap prinsip sebagai referensi, dibahas di sepanjang bab sebagai kontekstual yang relevan.  Scott yang sebelumnya adalah penulis blog, mengakui dia juga belajar banyak saat menulis buku ini dengan bermodalkan ribuan lembar penelitian terkait dengan pembelajaran dan prinsip-prinsip yang dia formulasikan.

Sembilan prinsip yang disarankan oleh Scott adalah:

  1. Metalearning: Awali dengan menggambar peta.  Ini adalah belajar mengenai belajar.  Pelajari bagaimana orang lain berhasil untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan mereka.  
  2. Fokus: Asah pisau anda.  Kerucutkan perhatian pada hal yang akan dipelajari secara mendalam.  Tiga masalah umum yang dihadapi untuk fokus adalah memulai, mempertahankan, dan mengoptimalkan mutu fokus.  Ketiga masalah ini dijawab oleh Scott di buku ini.
  3. Langsung: Segera lakukan.  Gagasan dasarnya adalah segera menggunakan apa yang dipelajari sedekat mungkin dengan situasi atau konteks mengapa kita mempelajari hal tersebut.
  4. Drill: Taklukkan kelemahanmu.  Ketahui komponen yang menentukan keberhasilan dalam pembelajaran.  Isolasikan komponen tersebut dari bagian yang lain, dan lakukan berulang-ulang.
  5. Mengulang: Uji untuk belajar.  Mengulang materi yang dipelajari bukan saja membantu mengingat apa yang kita pelajari sebelumnya, tetapi juga bisa membantu apa yang akan dipelajari berikutnya.
  6. Umpan balik: Jangan mengelak dari hantaman.  Meskipun mendapatkan umpan balik seringkali tidak nyaman, pembelajar perlu untuk mengesampingkan aspek negatif dalam penyampaian umpan balik, agar mendapatkan manfaat bagi pembelajaran berikutnya.   
  7. Retensi: Jangan mengisi ember bocor.  Supaya bisa mengingat, Scott menyimpulkan empat mekanisme memori: membuat waktu perantara untuk mengulang agar lebih ingat, proseduralisasi yang mengedepankan otomatisasi berkelanjutan, overlearning dengan praktek yang melebihi kesempurnaan, dan mnemonic dalam bentuk gambaran yang mewakili ribuan kata.
  8. Intuisi: Gali lebih dalam sebelum mendirikan bangunan.  Intuisi tidak bisa tercipta dengan cara hanya berlama-lama belajar.  Empat peraturan untuk membentuk intuisi adalah jangan mudah menyerah, buktikan sesuatu untuk memahaminya, selalu memulai dengan contoh yang konkrit, dan jangan merasa bodoh dengan mempunyai banyak pertanyaan sejalan dengan berjalannya pembelajaran.
  9. Eksperimentasi: Eksplorasi di luar zona nyaman.  Taktik yang ditawarkan Scott ada lima: meniru untuk berkreasi, bandingkan metode secara berdampingan, kenali halangan-halangan baru, temui superpower dengan menggabungkan keterampilan personal yang dimiliki, dan lakukan eksplorasi hal yang ekstrim.

Penyajian materi di buku ini nyaman untuk dibaca dan dipahami.  Scott membuat pembaca untuk segera menerapkan Ultralearning di segala hal yang terkait pembelajaran, baik formal ataupun berdasarkan minat pribadi.  Buku ditutup dengan cerita mengenai bagaimana keluarga Judit Polgár mendidiknya menjadi pecatur perempuan terbaik dunia melalui pola yang tidak umum.  Suatu pendekatan pendidikan yang selaras dengan prinsip-prinsip yang dibahas di Ultralearning.

Teman Atau Lawan

Pada 9 September 2020, Netflix merilis film dokumenter The Social Dilemma.  Film mengenai kekhawatiran dan testimoni para nara sumber yang mantan pegawai dari perusahaan yang terkait dengan jejaring sosial terkemuka, seperti Google, Twitter, Instagram, Facebook, YouTube, Firefox, dan Apple.  Para akademisi dan organisasi non-pemerintah juga memberikan pandangan mereka mengenai akibat negatif media sosial.  Lima hari sebelum dirilisnya The Social Dilemma, Prime Video merilis musim kedua The Boys, dengan diawali tiga episode pembuka.  Setelah tiga episode pembuka, lima episode berikutnya diecer rilis di tiap Jumat sampai 9 Oktober 2020.  The Boys mengisahkan para superhero yang dikendalikan oleh korporasi Vought dalam satu grup yang disebut sebagai The Seven.  Grup pahlawan super yang menyerupai Avanger atau Justice League.  Meskipun dua film ini berbeda genre, tetapi ada kemiripan tema mengenai kekuatan korporasi dalam mengendalikan dunia.  Isu yang diangkat di The Social Dilemma ada di dunia nyata, sedangkan kekejian korporasi di The Boys hanyalah fiksi.

Photo by Lisa Fotios on Pexels.com

Para nara sumber di The Social Dilemma menyatakan bahwa pendekatan yang dilakukan dalam membangun platform media sosial tidak melulu bertumpu pada teknologi, tetapi juga melibatkan disiplin ilmu psikologi yang bertujuan untuk mempengaruhi dan menimbulkan adiksi kepada para pengguna.  Kelekatan pengguna pada gawai diilustrasikan dengan interaksi keluarga yang terganggu karena setiap anak menggunakannya, bahkan di saat makan malam keluarga.  Kemampuan sihir algoritma disajikan dengan tiga orang yang menyodorkan content yang relevan untuk tokoh anak laki-laki, yang lama kelamaan menjerumuskannya pada gerakan radikal.  Sementara itu, tokoh anak perempuan berkeinginan untuk tampil sempurna di media sosial.  Walaupun menuai pujian dari banyak orang, tetapi dia terluka dengan hanya satu komentar negatif mengenai telinganya.  Seketika si anak perempuan mereka dirinya tidak sempurna.  Suatu ilustrasi yang terkait alasan meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja seiring dengan semakin merebaknya penggunaan sosial media.

Penonton The Social Dilemma digiring oleh pernyataan-pernyataan nara sumber dari bagaimana adiksi diciptakan oleh para pengembang platform media sosial, hingga efek memecah belah yang timbul di tingkat politik di beberapa negara.  Suatu akibat mengerikan yang tidak pernah dibayangkan oleh para nara sumber saat terlibat dalam pengembangan platform media sosial.  Nuansa sesal tercermin dari pernyataan mereka. Sementara itu, para akademisi mengajukan bukti-bukti keburukan yang difasilitasi oleh media sosial.  Beberapa dari mereka juga mengesankan terperangkapnya korporasi media sosial pada pemasukan finansial yang dihasilkan karena derasnya lalu-lintas di platform mereka, terlepas benar tidaknya muatan informasi yang disampaikan.  Meskipun beberapa pendiri media sosial menyatakan bahwa plaform mereka ditujukan untuk kebaikan, tetapi mereka terdiam ketika ditanyakan apakah dimungkinkan teknologi memisahkan kabar benar dengan kabar palsu yang berdampak negatif pada masyarakat.  Ketakutan efek buruk media sosial yang semakin memuncak mendekati akhir film dinetralisir dengan harapan agar ada peraturan yang lebih tegas untuk sosial media, sehingga sosial media dapat berfaedah untuk orang banyak.  Mengembalikan sosial media menjadi teman.

Kekuatan korporasi Vought dalam mengelola superhero untuk menekan angka kriminalitas domestik dan internasional tidak hanya terhenti dengan memberikan layanan berbayar kepada para pemangku kepentingan, tetapi juga merambah ke budaya populer dengan menampilkan anggota The Seven sebagai bintang iklan, menjadi bintang tamu untuk acara televisi, sampai ke kegiatan sosial untuk membangun citra positif mereka. Bagi masyarakat umum, The Seven adalah teman bagi mereka dalam memerangi kejahatan.  Kondisi berbalik saat terungkap bahwa korporasi tersebut menggunakan formula Compound V yang meracuni anak kecil, dengan tujuan membuat mereka memiliki kekuatan super.  Tokoh Billy Butcher (Karl Urban) yang memiliki dendam pribadi dengan Homelander (Anthony Starr) mengumpulkan teamnya untuk melawan para “supe” yang dipuja-puja orang banyak.  Kebusukan Vought sudah diketahui oleh Butcher sejak lama, namun dia kesulitan untuk mendapatkan bukti kejahatan korporasi ini dan para superhero ciptaannya.  Dengan bantuan Hughie Campbell (Jack Quaid), Mother’s Milk (Laz Alonso), dan Frenchie (Tomer Capon); Butcher berupaya mencari bukti-bukti yang mengarah pada penghancuran reputasi Vought sebagai korporasi yang berkesan peduli dengan kepentingan masyarakat.  Kebohongan Vought dan sisi gelap para superhero satu per satu dibuka di sepanjang musim pertama The Boys.  Kehadiran tokoh Stormfront (Aya Cash) di musim kedua semakin memperjelas sejarah jahat Vought yang sudah berlangsung puluhan tahun.  Tokoh-tokoh superhero yang biasanya ditampilkan sebagai manusia tanpa cela, diputarbalikkan di serial yang pertama kali ditayangkan pada 26 Juli 2019 ini.  Posisi superhero sebagai teman masyarakat, digambarkan sebagai tokoh yang abusif dengan kekuatan mereka.  Mereka bahkan mengakibatkan matinya banyak orang, yang ditutupi dengan kekuatan hubungan masyarakat.

The Social Dilemma dan The Boys berupaya untuk mengungkapkan sisi buruk media sosial dan superhero, yang selama ini dianggap sebagai teman untuk banyak orang.  Pemutarbalikan logika mengenai kebaikan kedua hal ini menyadarkan bahwa tidak pernah ada satupun yang sempurna, baik di dalam dunia nyata maupun di dunia fiksi.  Kemampuan hubungan masyarakat yang kuat dibuktikan berhasil membentuk persepsi positif yang diharapkan oleh korporasi media sosial dan para superhero.  Suatu upaya untuk menguburkan peran lawan, dan menguatkan peran teman.

Mengasah Kreativitas

Sejatinya, setiap orang terlahir dengan kemampuan kreatif.  Seiring dengan tereksposnya seseorang dengan asumsi-asumsi yang dihantarkan oleh lingkungan sosial dan lingkungan akademis, kreativitas seolah mendapatkan tekanan untuk bertumbuh.  Penilaian berdasarkan benar dan salah yang sifatnya absolut, membuat pribadi berupaya untuk menjawab dengan benar dan menghindari jawaban yang salah.  Seolah tidak ada jalan lain untuk menangani suatu permasalahan.  Seperti halnya otot yang dibentuk melalui olahraga di pusat kebugaran, otot kreativitas juga bisa dibentuk melalui latihan.  Perlu disadari bahwa kreativitas tidak hanya dibatasi pada kreasi yang berhubungan dengan seni, tetapi juga terkait dengan pekerjaan yang non-seni.  

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Terhambatnya pengasahan kreativitas adalah karena pendekatan pendidikan yang awalnya bertujuan untuk memenuhi tenaga kerja untuk kegiatan industri.  Pengetahuan yang dikemas dalam kurikulum dan rencana pengajaran berisikan standar yang harus dipenuhi, agar individu siap untuk bekerja setelah usai masa belajarnya.  Pendidikan didasarkan atas proses yang mengedepankan konformitas, pemenuhan persyaratan, dan proses linear (Robinson, 2015).  Standardisasi ini memaksakan manusia yang beragam menjadi seragam.  Standar ini menekan kreativitas, dengan tujuan tidak terjadi deviasi yang dianggap bisa mengganggu atau memperlambat tercapainya tujuan pendidikan.  

Pada blog 9 Agustus 2020 lalu, dibahas mengenai pola pikir bertumbuh (growth mindset) yang bisa membuka peluang untuk setiap orang menguasai bidang yang diminatinya.  Mereka dengan pola pikir ini tidak pasrah dengan asumsi bahwa setiap orang memiliki bakat bawaan yang tidak bisa diubah.  Diperlukan keberanian untuk melakukan eksplorasi kreativitas dengan menerapkan pola pikir bertumbuh ini.  Penjelajahan diri baru yang berbeda dengan diri yang ada saat ini, melibatkan pergeseran persepsi individu mengenai diri sendiri, dan persepsi individu terhadap dunia.  Kreativitas bukanlah sesuatu yang bersifat acak, atau bersifat ilham yang mendadak hadir di pikiran.  Proses kreatif dapat didekati dengan cara yang lebih terstruktur melalui suatu panduan penentu arah.  Sepertinya umumnya rencana, proses kreatif tidak mungkin selalu berjalan sesuai rencana.  Kegagalan demi kegagalan akan dialami.  Perlakukanlah kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran, untuk hasil yang lebih baik di depannya.  Jangan hanya mengapresiasi hasil akhir dari sebuah proses kreativitas, tetapi juga kenali dan pelajari kegagalan-kegagalan apa yang dialami di sepanjang proses tersebut.  Orang kreatif harus berani untuk mengambil risiko, bersiap untuk menghadapi kegagalan, dan bangkit lagi.    

Menumbuhkembangkan gagasan yang aneh tidak harus dimulai dari nol.  Kreativitas tidak berarti harus menghasilkan sesuatu yang baru untuk dunia.  Fungsi kreativitas adalah sebagai menambah nilai dari sesuatu yang sudah ada.  Salah satu cara mengembangkan kreativitas adalah dengan mengatur ulang gagasan yang sudah ada, menjadi bentuk yang berbeda.  Dahulu, restoran pizza memiliki armada pengantaran pesanan sendiri.  Mereka berinvestasi motor dan menggaji karyawan untuk bagian pengantaran ini.  Fungsi pengantaran tetap ada saat ini, tetapi terjadi pergeseran perlakuan biaya operasional restoran pizza: dari biaya tetap menjadi biaya variabel.  Pengantaran pesan sekarang dilakukan secara kerjasama dengan pemilik motor.  Biaya yang dibayarkan adalah untuk setiap pesanan yang diantarkan.  Alternatif lain untuk berkreasi di dalam bisnis adalah dengan memperkenalkan gagasan awam ke dalam konteks yang belum pernah dilakukan sebelumnya.  Bisnis berbasis ekonomi berbagi, seperti airbnb, adalah contohnya.  

Pola kerja inovatif berbeda dengan pola kerja rutin.  Individu perlu untuk mengetahui kedua pola kerja ini.  Robert Sutton (2007) menyatakan bahwa kerja rutin mementingkan ketepatan, dengan sebaik mungkin melaksanakan gagasan yang sudah mapan.  Kerja inovatif menekankan pada eksperimen, yang berpeluang untuk gagal.  Perlu dibedakan perlakuan standar penilaian untuk kedua pola kerja ini.  Kerja rutin lebih mudah diprediksi dan memiliki target yang jelas.  Sementara itu, kerja inovatif cenderung lebih lambat, karena diperlukan upaya untuk berpikir secara independen, dan targetnya tidak didefinisikan dengan jelas.  Organisasi tidak disarankan menghukum kegagalan karyawan saat melakukan pola kerja inovatif, tetapi hukumlah mereka yang tidak bertindak apa-apa.  Tentunya organisasi perlu untuk melakukan prakiraan ambang kegagalan, dan konsekuensi biaya yang mungkin terjadi, sebagai toleransi atas kesalahan.  

Gagasan kreatif tidak menjadi apa-apa saat hanya ada di dalam pikiran.  Kesenjangan antara mengetahui dengan melaksanakan harus dipersempit.  Pertimbangkan untuk mewujudkan gagasan kreatif secara berkelompok.  Tindakan kreatif tidak harus dilakukan oleh satu orang.  Bekerja dengan orang lain, membuat beban stress dapat dibagi.  Di samping itu, interaksi antar individu di dalam kelompok dimungkinkan menimbulkan kreativitas yang lebih segar.  Anggota kelompok dengan latar belakang yang beragam berpeluang untuk memperkaya kreativitas, dengan mengurangi pengaruh groupthink yang cenderung homogen dan monoton.

Setiap orang memiliki kapasitas kreatif yang dapat dikembangkan, dan pada akhirnya memberikan alternatif solusi.  Kreativitas bukan eksklusif untuk profesi yang terkait dengan seni saja.  Pola pendidikan yang terstandardisasi mengekang perkembangan kreativitas para pelajar, sehingga otot kreativitas mereka tidak dilatih dengan pantas.  Asumsi bahwa hasil kreativitas harus sesuatu yang baru untuk dunia, harus disingkirkan.  Berbagai pendekatan untuk proses kreatif dimungkinkan dengan berdasarkan gagasan yang sudah ada saat ini.  Hal yang terpenting di sini adalah kreativitas yang memberi nilai tambah, bukan kebaruannya.  Pola kerja yang berbeda pada proses inovasi memerlukan penilaian yang berbeda dengan proses kerja rutin yang presisi.  Perlunya memberikan toleransi atas kegagalan pada pola kerja inovasi yang mengutamakan eksperimen, perlu menjadi pertimbangan organisasi.  Untuk mempercepat dan mendukung agar gagasan kreatif menjadi lebih komprehensif, perlu dipertimbangkan pembentukkan kelompok yang kolaboratif.   

Bisnis Sosial Bukan Organisasi Nirlaba

Terminologi bisnis sosial seringkali dikaitkan dengan bentuk organisasi yang tidak mencari keuntungan, alias nirlaba.  Sebaliknya, beberapa organisasi berbadan hukum nirlaba malah kegiatannya menggunakan pendekatan komersil.  Orientasi bisnis sosial sama seperti bisnis pada umumnya, yaitu memperoleh laba untuk keberlangsungan hidup bisnis tersebut.  Bisnis sosial tidak mengandalkan kesinambungan organisasinya dari sumbangan, seperti pola organisasi nirlaba mendapatkan bantuan finansial dari penyandang dana atau para filantropis. 

Photo by Artem Beliaikin on Pexels.com

Bisnis sosial tidak sama persis dengan wirausaha sosial yang unsur pendorongnya adalah idealisme individu.  Meskipun keduanya memiliki pengaruh sosial, wirausaha sosial dimungkinkan alternatif intensinya adalah non-ekonomis, kegiatan menyumbang, atau bisnis.  Intensi bisnis sosial selalu untuk kepentingan ekonomi, namun dengan mengusung misi sosial.  Bisnis sosial dimulai dengan mengidentifikasi problem sosial yang perlu ditangani secara khusus, dengan tetap berorientasi pada kesejahteraan pemegang saham.  

Ketika perusahaan yang berorientasi laba melakukan program sosial, cara pandangnya berbeda dengan bisnis sosial.  Tujuannya adalah untuk menyalurkan dana yang dimiliki dengan kepentingan yang non-bisnis, arahnya lebih kepada pemenuhan tanggung jawab untuk kepentingan sosial.  Celakanya jika kegiatan ini berupaya untuk meminimalisasi biaya yang dialokasikan ke aktfitas sosial, bisa jadi manfaat sosial yang dituju tidak tercapai.

Muhammad Yunus pendiri Grameen Bank di Bangladesh, di bukunya yang berjudul “Building Social Business,” mengusulkan cara untuk pengusaha sosial mendapatkan investor.  Seperti layaknya bisnis pada umumnya, presentasikan rencana bisnis yang masuk akal untuk memikat investor.  Buat anggaran serinci mungkin untuk jangka waktu setidaknya lima tahun, lengkap dengan kegiatan bisnis yang akan dilakukan berserta struktur pemasukan dan pembiayaan. Tunjukkan bahwa gagasan bisnis ini layak untuk dilaksanakan. Perhatikan juga arus kas mingguan dan bulanan, sebagai penjamin kelancaran aktifitas bisnis.  Sangat disarankan untuk bisnis sosial tetap mengikuti pola korporasi yang berorientasi laba, supaya lebih fleksibel dibandingkan dengan badan hukum nirlaba.

Investor untuk bisnis sosial berminat untuk mendukung karena pengaruh sosial yang dihasilkan, dan manfaat finansial untuk dana yang mereka investasikan.  Jason Haber menyebut investasi seperti ini sebagai impact investment.  Bedanya investasi ini dengan investasi pada umumnya adalah pada niat untuk melakukan perubahan sosial yang bermanfaat untuk masyarakat.  Investor dalam hal ini tidak memperlakukan dana yang ditanam sebagai donasi.  Oleh karena itu, pebisnis sosial juga tidak bisa mengaggap dana tersebut sebagai sumbangan yang tidak perlu dikembalikan.  Pebisnis sosial harus mempertanggungjawabkan dana para investor dalam bentuk kompensasi finansial yang pantas.  

Menurut Jason Haber di bukunya: “The Business Good,” pasar untuk pebisnis sosial sangatlah besar, mengingat sebagian besar penduduk dunia berada di negara yang belum maju.  Meskipun mereka tidak memiliki daya beli yang kuat, tapi jumlah mereka sangatlah banyak.  Mereka juga seperti konsumen pada umumnya, memerlukan produk yang membuat hidup mereka lebih mudah dan aman.  Pebisnis sosial perlu mendalami mengenai akar masalah apa yang akan mereka pecahkan, bukan pada gejalanya.  Karena memberikan solusi pada gejala sifatnya temporer.  Pebisnis juga perlu menyiapkan pengukuran efektifitas dan efisiensi untuk kegiatan bisnis yang akan dilakukan.  Pengukuran ini berlaku untuk perbaikan kondisi sosial yang diakibatkan oleh produk yang dijual, dan perolehan finansial.  Karena target pasar yang tidak memiliki daya beli yang kuat, pebisnis sosial perlu untuk mengembangkan gagasan terobosan untuk membuat produk yang tidak mahal dan bisa dijual ke pasar yang luas.   

Bisnis sosial memiliki misi yang luhur, dengan tetap mempedulikan keuntungan finansial untuk keberlanjutan usaha.  Pendekatan untuk bisnis ini adalah sama dengan bisnis yang berorientasi laba pada umumnya.  Hal yang membedakan adalah kegiatan bisnis sosial memberikan pengaruh positif pada kehidupan masyarakat yang menjadi pasar sasarannya.  Bisnis sosial disarankan untuk berbadan hukum korporasi, sehingga geraknya akan lebih lincah.  Produk yang dihasilkan oleh bisnis sosial sangat memerlukan inovasi, agar bisa menjual produk dengan harga terjangkau untuk masyarakat di negara yang belum maju.  Selain mengukur keberhasilan finansial, bisnis sosial juga mengukur perbaikan seberapa jauh kesejahteraan tercipta dengan penjualan produk yang memberikan solusi atas masalah sosial yang dihadapi pasar sasarannya.

Generasi Z Sebagai Konsumen

Pemasar selalu menghadapi kondisi dinamis yang dipicu oleh perubahan lingkungan makro, maupun mikro industri.  Salah satunya adalah demographic cohort konsumen, yang kondisinya berbeda-beda untuk setiap zaman.  Setelah generasi Y (atau millennial), industri saat ini berinteraksi dengan generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1996 sampai 2011.  Perlu dicatat, ada perbedaan pendapat mengenai dimulai dan diakhirinya generasi ini, seperti ketidaksepakatan soal rentang tahun kelahiran untuk generasi-generasi sebelumnya.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Generasi Z saat ini sudah memasuki usia produktif, dan sebagian sudah secara mandiri memiliki daya beli.  Ciri utama generasi Z adalah kemudahan terhubung, karena semakin mapannya teknologi komunikasi lewat internet.  Menariknya, generasi ini tidak memiliki keseragaman.  L. Witt dan Baird (2018) mengidentifikasikan mereka sebagai independen, beragam, memiliki kesadaran sosial, dan selalu terhubung.  Keragaman mereka tercermin dengan bentukan-bentukan kelompok individu dengan karakter yang berbeda-beda.  Mereka terbuka untuk kemajuan, dan siap untuk beradaptasi.  Kemudahan akses untuk sumber-sumber informasi akan kemajuan zaman membentuk karakteristik ini.

Secara lebih rinci, Koulopoulus dan Keldsen (2016) mengidentifikasikan enam tekanan yang membentuk karakter generasi Z, yaitu:

  • Perubahan demografis: menurunnya tingkat mortalitas, meningkatnya mutu hidup, meningkatnya akses kontrasepsi yang berakibat menurunnya tingkat kelahiran, dan populasi menua terjadi di seluruh dunia.  
  • Hiperkoneksi: gawai yang dimiliki lebih dari satu jenis.
  • Teknologi ketapel: bentuknya sederhana dan mudah digunakan; meningkatkan ketersediaan untuk dihubungi; dan kemampuan teknologi untuk mengumpulkan data dari pengguna agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan mereka.
  • Pergeseran dari keberlimpahan ke keberpengaruhan, atau loyalitas: pentingnya membangun reputasi semakin mengemuka.
  • Pendidikan bukan lagi urusan usia dan lokasi: akses untuk mempelajari sesuatu yang menarik, tidak lagi dibatasi oleh waktu dan tempat.
  • Lifehacking: pemecahan masalah secara inovatif dan kreatif yang bisa menghemat waktu dan biaya. Bentuk urun dana (crowdfunding) sebagai cara mendapatkan permodalan usaha merupakan contoh solusi lifehacking.

Generasi Z bersama generasi millennial membentuk yang disebut oleh Briton (2015) sebagai negara kaum muda.  Fenomena yang menonjol adalah praktek ekonomi berbagi, simbol status yang bergeser dari ‘apa yang dibeli’ menjadi ‘apa yang dialami,’ pola kerja paruh waktu, dan menggunakan media sosial secara intens.  Industri penyedia pekerjaan dan pemasar perlu untuk memahami, menanggapi, dan memanfaatkan karakter yang menggejala ini.  

Godin (2015) menentang ilusi pasar massal sebagai suatu mitos ideal yang mengesankan “orang normal” hanya menginginkan “sesuatu yang normal.”  Hal ini kontekstual dengan karakter generasi Z yang terdiri dari beragam kelompok yang unik.  Kondisi asumsi pasar massal dan “orang normal” akan segera berlalu, berganti dengan “orang ajaib” di luar “normal” dan “berlimpah” dalam kebebasan waktu.  Internet memfasilitasi independensi selera.  Selera yang bertentangan dengan selera massal.  Pemasar perlu untuk menentang pemahaman lama mengenai pentingnya menjaga konsumen, jika ingin mengembangkan pasar generasi Z sebagai potensi pasar baru yang sedang bertumbuh.

Pemasar perlu mengadaptasi cara berkomunikasi dengan generasi Z yang pragmatis dan berorientasi pada kelompok.  Teknologi terkini harus dioptimalkan dalam membentuk percakapan melalui media sosial, dibandingkan dengan komunikasi pemasaran yang searah melalui penempatan di media konvensional.  Fokus bukan lagi pada kualitas produk, tetapi menempatkan produk di dalam pengalaman yang menyenangkan dan dikenang.  Pengalaman ini tidak saja atas produk yang dikonsumsi, tetapi juga pengalaman berbelanja secara daring (online) ataupun luring (offline).  

Penggunaan audio-visual, meme, simbol, dan emoji sangat disarankan untuk berkomunikasi dengan generasi Z.  Jangan terperangkap untuk membuat diferensiasi yang tidak kontekstual dengan target pasar.  Fokuskan pada apa yang akan diperhatikan oleh generasi Z, untuk membangun kongruensi antara merek dengan target pasar.  Pesan yang disampaikan durasinya harus pendek, tepat sasaran, dan menggunakan audio-visual yang menarik.  Generasi Z memroses muatan dengan cepat, dan sudah terbiasa untuk menyaring bagian yang penting dan relevan.  Mereka terbiasa untuk melompati bagian yang menurut mereka tidak bermanfaat untuk dilanjutkan.  

Kemudahan akses untuk mengetahui kemajuan dunia, membuat generasi Z menjadi generasi yang peduli dengan isu-isu sosial.  Mereka ingin terlibat dengan gerakan yang menjunjung hal-hal positif yang sesuai dengan idealisme generasi Z.  Sampaikan nilai-nilai luhur yang merek pedulikan sejujur mungkin, karena generasi Z mendukung hal yang otentik.  Rasa percaya generasi Z juga harus dibangun dari waktu ke waktu.  Konsistensi penyampaian merek merupakan keharusan untuk meyakinkan generasi Z. Penyampaian ini berupa percakapan interaktif yang mementingkan kejujuran dan kesetaraan dengan tujuan membentuk hubungan yang hakiki. Gunakan media sosial sebagai wahana berkomunikasi, dengan muatan yang relevan dan menginspirasi mereka.  Generasi Z tidak berminat dengan muatan dengan gaya promosi yang digunakan di media massa konvensional.  Mereka perlu teman bicara yang dipercaya dan memberikan inspirasi.

Generasi Z dibesarkan pada lingkungan yang difasilitasi oleh teknologi yang memungkinkan terjadinya keterhubungan dengan pihak lain dan sumber-sumber berita yang kontekstual dengan ketertarikan mereka.  Cara generasi Z mempersepsikan dunia di sekitarnya, termasuk ketika pemasar mengomunikasikan mereknya, berbeda dengan generasi sebelumnya.  Generasi Z terdiri dari banyak kelompok yang memiliki keragaman minat yang menjadi ancaman sekaligus peluang untuk pemilik merek.  Pemasar perlu untuk mengenali, memahami, dan mengelola konsumen generasi Z dengan memperhatikan karakter khas mereka.

Saya, Kalian, dan Pemasar

Konsumen dipengaruhi berbagai sumber dalam membentuk preferensi atas suatu merek, dari tingkat kekenalan sampai ke tahap pembelian.   Setidaknya, ada tiga sumber yang mempengaruhi.  Dimulai dari tingkat individu, dilanjutkan pada tingkat lingkungan sosial, dan tingkat aktifitas pemasar sebagai pemberi pengaruh.  Pembentukkan identitas diri juga dipengaruhi ketiga hal tersebut.  Pada beberapa kondisi, merek dari pemasar menjadi cerminan identitas pribadi, sekaligus sebagai penanda di kelompok sosial mana individu tersebut berada.  Tulisan ini mengaitkan hubungan antara konsumen (saya), lingkungan sosial (kalian), dan pemasar sebagai pihak eksternal konsumen yang punya kepentingan untuk melakukan pertukaran dengan konsumen.

Photo by Paweu0142 L. on Pexels.com

Individu membentuk identitas diri dari mengamati lingkungan sosial terdekatnya, yaitu keluarga.  Seiring dengan identitas, terbentuk pula nilai, preferensi, logika berpikir, opini, sikap, dan kebiasaan.  Pada saat menjadi konsumen yang mempunyai daya beli, individu tidak selalu membawa semua ini secara utuh.  Ada pengaruh juga dari lingkungan sosial di luar keluarga, dan peran pemasar melalui pelbagai saluran komunikasi pemasaran yang non-personal ataupun personal.  Lingkungan sosial yang memberi pengaruh tidak hanya lingkungan sosial dimana individu berinteraksi secara langsung, tetapi juga kelompok referensi yang menginspirasi individu.  

Pada tataran individu, ada tiga dorongan yang berpusat di otak sebagai memandu pilihan.  Jika diibaratkan sebagai mesin, ada tiga mesin yang disampaikan oleh Steven Quartz dan Anette Asp di buku mereka, “Cool.”  Mesin pertama disebut sebagai the survival pleasure machine yang didasarkan atas refleks, dimana keputusan dibuat tanpa pemikiran.  Mesin kedua adalah the habit pleasure machine yang memandu rutinitas dan kehidupan sehari-hari.  Mesin kedua ini terbentuk secara perlahan-lahan sejalan dengan berjalannya waktu. The goal pleasure machine merupakan mesin ketiga, yang sifatnya rasional dan dilakukan dengan sadar.  Individu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan suatu keputusan dengan mesin ketiga ini.  Pada mesin ini, individu mulai mempertimbangkan bagaimana dia memandang dirinya dan mempertimbangkan bagaimana orang lain memandang dia.  Pemasar dapat memanfaatkan mesin yang pertama untuk produk yang dibeli konsumen secara impulsif.  Konsumen secara refleks membeli barang tersebut, tanpa pertimbangan.  Cara bekerja mesin kedua tercermin dengan bagaimana konsumen membeli merek yang sama untuk produk kategori tertentu.  Setelah ditelusuri, keputusan membeli ini karena konsumen sudah lama menggunakan, dan ibunya yang membeli merek tersebut saat konsumen masih kecil.  Pemasar perlu menyadari bahwa untuk mengaktifkan mesin ketiga, konsumen akan menggunakan logika dan emosinya dalam menentukan pilihan.  Pada mesin ketiga ini, faktor lingkungan sosial dan kelompok referensi untuk konsumen perlu dimasukkan sebagai pertimbangan pemasar. 

Perkembangan individu dilatari oleh perjalan historis personal yang khas, dan bertautan dengan budaya yang membayang-bayangi pembentukan pribadinya.  Di benak individu tergambar pribadi ideal.  Konteksnya akan berbeda antar individu, dikarenakan pengalaman dan pengaruh yang mereka lalui berbeda-beda.  Budaya populer selalu menampilkan tokoh-tokoh panutan yang dianggap mencapai kesuksesan sebagai referensi individu mengenai figur yang ideal.  Beberapa contoh dalam hal ini adalah bentuk tubuh ideal, gaya hidup, pola bertindak, dan simbol status.  Peran media dalam pembentukkan tokoh idola sangatlah penting.  Melalui media dengan berita-berita yang bombastis inilah individu – secara sadar atau tidak – membentuk sasaran idealnya.  Pemasar kerap memanfaatkan gelombang berita ini untuk mempengaruhi konsumen, terutama saat ada kongruensi antara merek yang ditawarkan dengan kelompok referensi dan konsumen.  

Individu cenderung mengikuti orang lain dan mengadopsi pendapat mereka, karena hal tersebut menghemat waktu dan melibatkan rasional serta emosional.  Jonah Berger dalam “Invisible Influence” menjabarkan ada dua kondisi yang menarik pada pola ikutan ini; ada kelompok yang meniru karena mereka mendapat pengaruh dari luar; dan ada kelompok yang justru menghindar ketika sebagian besar orang menyukai sesuatu.  Kelompok kedua ini disebut sebagai the snob effect.  Mereka di kelompok ini mau tampil beda, lebih baik, lebih cerdas, lebih luas wawasannya, atau lebih canggih.  Sesungguhnya, individu selalu menghadapi pilihan: ingin sama dengan yang lain, ingin berbeda dari yang lain, atau menyeimbangkan di antara keduanya. Pemasar perlu menyikapi hal ini dengan mempertimbangkan keselarasan merek dengan konsumen yang dituju, dan bagaimana profil konsumen ini dalam memilih antara keinginan untuk sama atau berbeda dengan orang lain.  Kondisi ini menghadapkan pemasar pada pilihan untuk melayani pasar massal, pasar yang terbatas, atau ceruk pasar kecil tetapi menguntungkan.  Tentunya, keterkaitan antara merek dan konsumen berperan dalam penentuan ini.

Pada prakteknya, pemasar kerap menggunakan tokoh idola sebagai model atau pendukung (endorser) sebagai jembatan yang menghubungkan antara merek dengan konsumen.  Pemasar memanfaatkan tokoh idola dan para pengikutnya sebagai apa yang disebut oleh Jay Baer dan Daniel Lemin sebagai pemicu pembicaraan (talk trigger).  Tugas pemasar adalah membungkus pesan yang memberikan nilai kepada target audiens, dengan juru bicara tokoh idola tersebut.  Jalan lain yang lebih menantang bagi pemasar yaitu membangun getok tular (word-of-mouth) secara mandiri.  Pemasar perlu mengidentifikasi mereka yang menjadi simpul-simpul pelanjut kabar, agar merek disebutkan dan direkomendasikan.  Empat esensi yang harus dimiliki pemicu pembicaraan:

  1. Menarik perhatian (remarkable): kategori produk harus cukup menarik untuk disebarkan oleh konsumen.
  2. Relevan: pesan yang disebarluaskan menyampaikan sesuatu terkait dengan nilai inti bisnis.
  3. Masuk akal (reasonable): hindari kesan pamer berlebihan dan tetaplah membumi, agar merek lebih dipercaya.
  4. Dapat diulang (repeatable): dimungkinkan untuk disebarkan oleh seluruh orang, bukan cuma bisa dilakukan oleh sekelompok kecil konsumen saja. 

Agar pemicu pembicaraan ini efektif, pemasar perlu melibatkan emosi konsumen dengan cara yang tidak terduga.  Pemasar harus menunjukkan rasa empati, ketulusan, dan kegembiraan sebagai ciri pemicu pembicaraan.  Pemicu pembicaraan ini juga harus efisien dalam penyebarannya secara kegunaan dan kecepatannya.  Dengan demikian, konsumen tidak mengalami kendala dalam menyebarkannya, dan pemasar bisa memanfaatkan momentum penyebaran sebaik mungkin.  

Kesimpulannya, konsumen dalam memutuskan pembelian dipengaruhi oleh diri mereka sendiri (saya), lingkungan sosialnya (kalian), dan pemasar.  Lingkungan sosial berperan dalam membentuk identitas diri konsumen, preferensi, opini, dan sikap atas suatu merek.  Meskipun ada kalanya individu ingin berbeda dengan yang lain, tetap saja mereka menggunakan kelompok sosial sebagai panduan untuk menyamakan diri atau membedakan diri dari mereka.  Pemasar dapat memanfaatkan lingkaran sosial konsumen untuk mempengaruhi mereka melalui pembentukkan simpul-simpul pemicu pembicaraan.  

Perlunya Pemasar Memahami Cara Berpikir

Pemasar berupaya mempengaruhi konsumen agar mereka memperhatikan, berminat, punya dorongan untuk memiliki, membeli, dan melakukan tindakan atau sikap pasca pembelian.  Perjalanan yang ditempuh untuk mempengaruhi konsumen bukan merupakan jalan searah, tapi merupakan suatu siklus berulang yang akan menumbuhkan rasa percaya dan komitmen antara pemasar dan konsumen pada masa yang lebih panjang.  Pemasar perlu mengenali bagaimana cara kerja otak, sebagai pertimbangan untuk mempengaruhi konsumen, serta memperkuat preferensi konsumen terhadap merek atau produk yang ditawarkan.

Photo by Rodolfo Clix on Pexels.com

Untuk menarik perhatian konsumen, pemasar perlu menargetkan apa yang disebut oleh Patrick Renvoisé dan Christophe Morin sebagai “otak tua.”   “Otak tua” ini berorientasi pada kepentingan diri sendiri dan malas untuk mengolah pesan yang panjang.   Langkah-langkah yang diambil oleh pemasar adalah melakukan diagnosa masalah yang dihadapi konsumen, diferensiasi klaim sekonkret mungkin, memaparkan apa perolehan yang akan didapat oleh konsumen dalam bentuk pembuktian-pembuktian, dan mencari cara penyampaian pesan ke “otak tua.”  Pengelolaan keempat komponen (masalah x klaim x perolehan x penyampaian) terkait dengan kemungkinan untuk mendapatkan penjualan.  Semakin baik pengelolaannya, semakin besar kemungkinan penjualan akan terjadi.

“Otak tua” ini berorientasi pada kepentingan diri sendiri dan malas untuk mengolah pesan yang panjang.  

Malasnya “otak tua” ini membuat konsumen mengambil keputusan menggunakan heuristik, yaitu dengan menyederhanakan pencarian pemecah masalah.  Sebagai contoh: konsumen otomotif menilai baik buruknya merek mobil berdasarkan pengamatan seberapa sering menjumpai merek mobil tersebut di jalan.  Hal ini merupakan semacam kesepakatan sosial akan merek mobil yang pantas untuk dibeli, menjadi validasi terutama untuk konsumen yang peragu.  Contoh lainnya adalah penggunaan harga sebagai takaran mutu suatu merek.  Pada kasus multivitamin, ditemukan bahwa merek yang harganya lebih mahal dipersepsikan lebih memberikan manfaat dibandingkan merek yang murah.  Meskipun ketika diteliti lebih seksama, muatan kedua multivitamin tersebut kurang lebih serupa.  

Martin Lindstorm dalam bukunya “Buyology” melihat dari sisi pemasar untuk memiliki somatic markers berupa jalan pintas yang dapat memicu respons otomatis, karena konsumen memiliki pengalaman dalam hidupnya akan penanda ini.  Konsumen cuma perlu mengingat ulang apa yang dialaminya, tidak perlu membentuk pemahaman baru yang masih asing.  Asosiasi yang positif antara merek dengan pengalaman konsumen akan memperkuat keinginan konsumen untuk melakukan pembelian.  Konteks ini menunjukkan bahwa merek hidup di dalam pikiran konsumen.  Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa asosiasi tersebut bersifat subjektif dari sudut pandang setiap konsumen.  

Dalam kaitan penyampaian kampanye komunikasi pemasaran yang efektif, Douglas van Praet dalam bukunya “Unconscious Branding” mengategorikan bagian otak menjadi tiga: fisikal, emosional, dan rasional.  Bagian fisikal adalah otak reptilian yang berhubungan dengan hal yang mendasar, seperti: bernafas dan makan.  Memori dan perasaan ada di bagian emosional.  Bagian ini terdiri dari amygdala (menyukai suatu merek untuk dikonsumsi), hippocampus (mengenali identitas suatu merek), dan hypothalamus (desakan perasaan untuk mengonsumsi merek tertentu).  Fungsi kognitif yang lebih tinggi berada di bagian rasional.  Tugasnya adalah untuk memecahkan masalah berdasarkan informasi valid yang mendukung.  Otak manusia sesungguhnya dapat diduga, karena siklusnya melalui tiga bagian ini di sepanjang waktu.  Jika ada merek baru yang bertujuan untuk menarik perhatian, pemasar perlu menginterupsi siklus pada tiga bagian otak ini.  Ketika interupsi ini berhasil, konsumen akan berpaling ke stimulus yang menganggu siklus tersebut. 

Guna melekatkan pesan pemasaran ke ingatan konsumen, Donald Miller menyarankan penyampaian melalui apa yang dia sebut sebagai StoryBrand.  Cerita berperan sebagai jaring untuk menangkap memori melalui informasi yang diorganisasikan secara teratur.  Manusia pada dasarnya senang mendengarkan cerita.  Pada budaya bertutur, cara menyampaikan pesan-pesan luhur dan nasihat disampaikan melalui cerita secara turun temurun.  

Lebih lanjut, Miller mengajukan apa yang disebut sebagai 7-bagian rerangka StoryBrand.  Seperti layaknya cerita, ada tokoh sentral sebagai bagian pertama dari rerangka ini.  Tokoh sentra dalam hal ini adalah si konsumen.  Di dalam cerita ini, tokoh sentral (character) menginginkan sesuatu yang sulit untuk diraih.  Sesuatu ini adalah bagian yang disebut sebagai masalah (problem) atau ‘penjahat’ yang harus dihadapi.  Ketika tokoh sentral hampir menyerah, hadir bagian yang disebut sebagai pemandu (guide).  Bagian ini terkait dengan peran produk yang pemasar tawarkan untuk memecahkan masalah.  Pemandu punya dua peranan: sebagai pihak yang berempati pada tokoh sentral, dan sebagai tokoh yang kompeten untuk menanggulangi masalah.  Pemandu melibatkan dua bagian dari 7-bagian rerangka StoryBrand yaitu perencanaan (plan) dan tindakan (calls to action).  Perencanaan pada tataran produk adalah ketika pemasar memberikan langkah-langkah pembelian.  Pemasar mengantar konsumen untuk bertindak membeli secara langsung saat itu juga, atau secara transisional, yaitu kondisi ketika konsumen berminat tapi menunda pembelian.  Bagian keenam adalah tokoh sentral gagal (failure) karena mereka tidak mematuhi arahan pemandu.  Pemasar menyampaikan konsekuensi negatif apa yang akan konsumen hadapi, jika tidak membeli produk yang ditawarkan.  Bagian terakhir adalah keberhasilan (success), dimana tokoh sentral menudukkan masalah atau penjahat yang dihadapi.  Ini adalah bagian akhir cerita yang menggembirakan.  Pemasar meyakinkan konsumen bahwa produk mentransformasi kehidupan mereka.  Bentuk transformasi bisa berupa peningkatan status (misal: menjadi pahlawan di akhir cerita), kelengkapan (misal: mendapatkan jodoh di akhir cerita), atau perbaikan diri (misal: mencapai potensi diri yang lebih baik di akhir cerita).

Sebagai kesimpulan, pemasar perlu memahami cara kerja otak dan cara berpikir.  Berdasarkan ini, pemasar lebih mampu untuk mempengaruhi konsumen sasarannya. Mengarahkan pesan kepada “otak tua” perlu disiasati agar sesuai dengan preferensi konsumen untuk mengolah pesan yang dikirim.  Cara berpikir heuristik yang menggunakan jalan pintas, membuat konsumen lebih menyukai pesan yang sederhana, mudah dicerna, dan pernah dialami sebelumnya.  Pemasar perlu mengetahui fungsi tiga bagian otak, untuk mengetahui bagaimana ketiganya bekerja, dan bagaimana melakukan interupsi agar mendapatkan perhatian.  Untuk menyampaikan pesan yang lebih melekat di dalam ingatan konsumen, diusulkan menggunakan BrandStory yang menempatkan konsumen sebagai tokoh sentral di dalam suatu cerita, layaknya sebuah dongeng atau cerita di film.  Tujuh bagian BrandStory merupakan langkah yang disarankan dalam membentuk interaksi antara konsumen dengan produk pemasar.  Dengan pengalaman yang menyenangkan, konsumen akan menyimpan memori positif yang akan menjadi bagian dari siklus tiga bagian otak untuk memutuskan pembelian di masa mendatang.

Menyelaraskan Pola Pikir

Beberapa orang mempercayai bahwa kemampuan diri ada batasnya, dikarenakan dirinya dan orang di sekitarnya mengonfirmasi karakter yang melekat pada setiap pribadi.  Bentuk pelabelan seperti ini berpotensi menghambat perkembangan kemampuan diri.  Individu yang meyakini ini memilih untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan label yang diberikan.  Semisal, seorang yang merasa tidak mampu untuk bermain instrumen musik, maka dia akan beranggapan bahwa dia tidak berbakat di musik.  Keyakinan ini semakin diperparah ketika lingkungan sosialnya juga menyatakan ketidakberbakatan ini secara eksplisit.  Konfirmasi yang berulang-ulang akan semakin membuat seseorang menghindari mencoba segala sesuatu yang bukan bidangnya.  Pada konteks ini, pola pikir mengendalikan perilaku.

Photo by Skitterphoto on Pexels.com

Ada dua pola pikir yang diidentifikasikan oleh Carol Dweck di buku berjudul “Mindset”, yaitu pola pikir tetap (fixed mindset), dan pola pikir bertumbuh (growth mindset).  Pola pikir yang pertama membuat pribadi meyakini bahwa mereka terlahir dengan bakat pada bidang tertentu, tetapi tidak di bidang yang lainnya.  Mereka yang punya pola pikir ini akan berfokus pada bakat yang diyakininya sebagai jalan hidupnya.  Sementara itu, pola pikir yang kedua percaya bahwa mereka bisa ahli di bidang apa saja yang mereka inginkan, jika mereka berusaha keras.  Mereka dengan pola pikir bertumbuh menyambut masalah-masalah untuk menjadi ahli di bidang yang mereka ingin tekuni.  Masalah-masalah tersebut bagi mereka adalah tantangan.  Mereka yang menganut pola pikir bertumbuh menyadari bahwa otak dapat dilatih seperti otot yang dilatih dengan olahraga.  Menurut mereka, pola pikir yang bertumbuh adalah suatu pemenuhan diri.  

Setiap orang bisa menjadi ahli di bidang yang dia inginkan, selama dia punya kemauan untuk bekerja keras menguasai keahlian tersebut.  Pola pikir bertumbuh merupakan tumpuan untuk memupuk keahlian yang tidak akan berakhir.  Keahlian bukanlah suatu tujuan, tetapi suatu filosofi untuk terus menerus belajar di sepanjang usia.  Di buku “Mastery” tulisan George Leonard, disampaikan bahwa membentuk keahlian adalah perjalanan hidup dengan memikirkan ulang motivasi untuk mempelajari keterampilan baru; berupaya keras untuk membentuk talenta (bukan karena untuk dipuji); menghargai pentingnya proses yang memerlukan kesabaran dan ketekunan; menggeser pola pikir dari yang tetap ke bertumbuh; dan menyikapi pembelajaran sebagai penjelajahan yang manfaatnya diperoleh di sepanjang jalan.

Banyak yang mengatakan bahwa seseorang akan menjadi ahli dan berhasil jika mengerjakan sesuatu sesuai dengan hal yang diminatinya.  Cal Newport di buku “So Good They Can’t Ignore You” menyanggah hal ini.  Berdasarkan pengamatannya, sering terjadi mereka yang bekerja berdasarkan gairah (passion) personal, mengalami ketidakpuasan.  Alasan yang mendasar adalah jarangnya peluang kecocokkan antara gairah dengan profesi.  Bukannya tidak ada, tapi sangat langka mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gairah pribadi yang sesungguhnya.  Cal Newport menyarankan agar jangan lakukan apa yang kamu suka, tapi belajar menyukai apa yang kamu lakukan.  Dengan semakin banyaknya pengalaman bekerja di suatu bidang, semakin besar peluang seseorang akan menikmati pekerjaannya, dan menjadi semakin terampil di bidang tersebut.  Pola pikir bertumbuh memfasilitasi pembelajaran yang mengarah kepada keahlian dalam kondisi ini.  Gairah akan terbentuk sejalan dengan berjalannya waktu.  

Berdasarkan teori determinasi diri, ada tiga sumber motivasi intrinsik, yaitu: otonomi untuk memegang kendali, kompeten pada hal yang dikerjakan, dan keterhubungan dengan orang lain yang terkait dengan keahlian yang ditekuni.  Dibandingkan dengan menggunakan pola pikir berdasarkan gairah yang menginginkan pekerjaan idaman, Cal Newport menyarankan untuk menerapkan pola pikir pengrajin (craftsman) yang lebih mementingkan nilai apa yang bisa diberikan kepada pekerjaan yang dilakukan.  Pola pikir pengrajin ini mengedepankan kualitas, melalui praktek yang secara sengaja ditujukan untuk merentang kemampuan diri.  Hasilnya disebut sebagai modal karir, berupa keterampilan yang langka dan bernilai.  Keterampilan unik yang melekat pada pribadi ini akan memperkuat sumber motivasi intrinsik otonomi untuk memegang kendali.  Tahap berikutnya setelah proses pembentukkan modal karir berlangsung adalah melakukan eksplorasi misi karir.  Misi karir ini berkaitan dengan peluang untuk mengembangkan modal karir.  

Idealnya, pola pikir berkembang tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri.  The Arbinger Institute menawarkan konsep pola pikir berorientasi keluar (outward mindset).  Pola pikir ini mempertimbangkan juga kebutuhan dan apa yang dirasakan oleh orang lain.  Individu perlu menelaah apa yang dia butuhkan dari orang lain, dan apa yang orang lain butuhkan dari dia.  Langkah yang dilakukan adalah mencari tau kebutuhan orang lain, menyesuaikan upaya yang individu lakukan, dan mengukur hasilnya.  Perlu dibuat skenario-skenario yang bertujuan memenuhi kebutuhan resiprokal ini.  

Tulisan ini mengangkat pentingnya menyelaraskan pola pikir.  Berpindah dari pola pikir tetap ke pola pikir bertumbuh, akan memberikan kita pemahaman mengenai kemungkinan untuk menjadi ahli di bidang yang pada awalnya tidak masuk ke dalam daftar bakat yang kita miliki.  Kerja keras dan ketekunan adalah prasyarat yang harus dilakukan untuk menerapkan pola pikir bertumbuh.  Keahlian yang terbentuk bukanlah merupakan tujuan akhir, tetapi suatu penjelajahan yang terus menerus, selaras dengan prinsip pembelajaran berkelanjutan.  Secara prakteknya, keahlian yang dibentuk tidak harus sesuai dengan minat atau gairah yang kita miliki, karena kecocokkan antara kedua hal tersebut dengan dunia profesional sangatlah langka.  Dengan menggunakan pola pikir pengrajin, kita mencoba menyukai apa yang dikerjakan akan mengantarkan kita menjadi ahli dalam menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang baik.  Pola pikir pengrajin ini lama kelamaan akan membentuk keahlian yang merupakan modal karir.  Agar keahlian bermanfaat untuk pihak lain, perlu diterapkan pola pikir yang berorientasi keluar diri.  Kekuatan pola pikir yang kita miliki akan semakin baik dan semakin kuat saat bertujuan untuk mencapai sasaran secara kolektif.

Perspektif Usaha Rintisan

Usaha rintisan semakin marak belakangan ini, terutama dengan berhasilnya usaha rintisan yang mendisrupsi pasar.  Tentunya, banyak juga usaha rintisan yang gagal bertahan karena beragam penyebab.  Perlu disadari untuk mereka yang akan memulai usaha rintisan, bahwa ada perbedaan sudut pandang mengelola usaha dibandingkan dengan mengelola perusahaan besar yang sudah mapan.  Perusahaan mapan mengarahkan upaya bisnisnya ke pasar sasaran dengan skala besar, dan perlu mencermati kondisi yang kompetitif.  Cara pandang yang digunakan adalah bertolak dari produk.  Dua pilihan mendasar yang mereka lakukan adalah membuat produk yang lebih baik dibandingkan dengan produk pesaing, atau menawarkan produk yang sudah ada di pasar dengan harga yang lebih murah.  Pilihan pertama dilakukan dengan melakukan penelitian dan pengembangan produk, agar mampu memproduksi penawaran yang lebih unggul secara relatif dibandingkan para pesaing.   Jika perusahaan memilih menawarkan produk dengan harga lebih murah, upaya yang ditempuh adalah melakukan efisiensi melalui berbagai cara; seperti mendapatkan pemasok dengan harga lebih murah, melakukan alihdaya proses non-inti, atau mengelola rantai pasokan dengan lebih efisien.  Penawaran yang dilakukan melalui pilihan-pilihan tersebut bukanlah produk yang asing bagi pasar sasaran.  Pokok yang diperlukan adalah mencari masalah produk yang ada saat ini, dan bagaimana menawarkan produk yang lebih sempurna.  

Photo by Vlada Karpovich on Pexels.com

Cara pandang yang berbeda dilakukan oleh usaha rintisan, dimana berangkat dari pemenuhan kebutuhan atau pemecahan masalah untuk pasar sasaran.  Pada beberapa kondisi, konsumen yang dituju berupa ceruk pasar yang tidak menarik bagi perusahaan mapan untuk melayaninya.  Perusahaan mapan memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai pasar yang dituju, dan bagaimana agar mereka mendapatkan keuntungan dari pasar tersebut.  Sementara itu, usaha rintisan tidak punya landasan yang kuat untuk memastikan apakah gagasan bisnis yang akan dirintis akan berhasil di masa mendatang.  Jika masalah yang perlu dikedepankan pada perusahaan mapan adalah terkait dengan masalah dengan produk yang ada di pasar saat ini, usaha rintisian lebih berfokus pada masalah apa yang dihadapi oleh konsumen sasarannya.  Usaha rintisan dapat menggali masalah yang dihadapi oleh konsumen sasarannya didasarkan atas kepakaran, pengalaman, dan koneksi yang dimiliki oleh pendiri usaha rintisan tersebut.  Reid Hoffman dan Ben Casnocha mengatakan ada dua hal yang harus dimiliki oleh usaha rintisan, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan memiliki kewaspadaan.  Tempatkan diri selalu berada pada kondisi beta yang permanen, agar kedua kemampuan ini terpelihara. Berada pada kondisi dalam progres seperti ini diharapkan dapat memupuk keinginan untuk selalu belajar dan mengembangkan gagasan-gagasan baru.

Eric Ries pada bukunya yang berjudul “The Lean Startup” mengusulkan untuk para pendiri usaha rintisan menggunakan pendekatan ilmiah melalui pengujian hipotesis dengan cara berbicara langsung dengan konsumen yang dituju, bukan dengan menggunakan kuesioner isian.  Hipotesis awal yang perlu diuji disebut sebagai value hypothesis yang ditujukan kepada pasar sasaran awal yang diprakirakan sebagai adopter awal.  Setelah masalah konsumen kelompok adopter awal ini diselesaikan dengan produk yang ditawarkan, dilanjutkan dengan hipotesis berikutnya, yaitu growth hypothesis untuk masuk pasar yang lebih besar.  Berdasarkan validasi pembelajaran melalui pendekatan ilmiah dan mendapatkan asumsi-asumsi dari hasil uji value hypothesis dan growth hypothesis dilakukan pengembangan produk untuk melakukan uji coba gagasan ke pasar.  Eric Ries menyarankan untuk dikembangkan minimal viable product (MVP) sesederhana mungkin.  Melalui siklus bikin-ukur-pembelajaran (build-measure-learn) yang dilakukan secara sesegera mungkin, dimungkinkan untuk melakukan penyempurnaan produk dan mendapatkan masukan berharga mengenai apa yang diinginkan oleh konsumen.  

Meskipun berbeda titik tolak dalam melakukan usaha, baik perusahaan yang mapan maupun usaha rintisan memiliki satu persamaan kunci, yaitu memperoleh laba yang memadai untuk kesinambungan usaha di masa yang lebih panjang.   Kedua bentuk perusahaan ini perlu untuk menentukan tujuan, yang menjadi dasar alasan mengapa usaha ini dibangun.  Menurut Steven Blank, kesamaan ini memprasyaratkan usaha rintisan untuk menentukan nilai-nilai inti (core values) dan pernyataan misi, seperti halnya perusahaan mapan.  Nilai-nilai inti yang otentik akan menjadi panduan bagi usaha rintisan untuk menempuh perjalanan bisnisnya.  Jika tujuan merupakan alasan dasar berbisnis, nilai-nilai inti adalah bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.  

Denise Lee Yohn dalam bukunya berjudul “Fusion” mengangkat pentingnya hubungan antara merek dan budaya internal perusahaan.  Pada usaha rintisan, gagasan dari para pendiri menjadi ruh dalam pembentukan budaya perusahaan.  Identitas merek bisa dibangun dengan menggunakan budaya perusahaan sebagai pengungkit.  Budaya perusahaan rintisan memiliki perbedaan yang menyolok dibandingkan perusahaan yang mapan.  Budaya ini membentuk apa yang disebut sebagai employee experience (EX).  Sementara itu, merek memfasilitasi terbentuknya customer experience (CX).  Menyelaraskan EX dan CX akan membentuk fusi yang membedakan penawaran yang diberikan oleh perusahan kepada konsumen.  Fusi ini dapat dilakukan pada perusahaan mapan ataupun usaha rintisan.  Namun demikian, penerapannya lebih mudah dilakukan di usaha rintisan yang organisasinya cenderung tidak hirarkis.  

Perusahaan mapan dan usaha rintisan memiliki perbedaan dan persamaan cara pandang dalam menjalankan bisnis.  Perbedaannya ada di titik awal untuk melakukan bisnis.  Steve Blank pada bukunya “The Four Steps to The Epiphany” menyatakan bahwa perusahaan mapan mengarah pada proses pengembangan produk, sedangkan usaha rintisan pada proses pengembangan pelanggan.  Karena kondisi usaha rintisan yang tidak memiliki informasi selengkap perusahaan yang mapan, perlu dilakukan pendekatan ilmiah seperti yang disarankan oleh Eric Ries.  Persamaan antara menjalankan perusahaan mapan dan usaha rintisan adalah dalam penentuan tujuan, menentukan nilai-nilai inti, dan pernyataan misi.  Persamaan yang lain adalah dimungkinkannya untuk membuat fusi antara EX dengan CX sebagai pembentuk identitas dan keterikatan antara perusahaan dan pelanggannya.  Karena organisasi yang lebih ringkas, usaha rintisan lebih memiliki keunggulan untuk menerapkan fusi ini.