Kegagalan adalah hal yang dialami semua orang. Walaupun perencanaan dibuat secara seksama, kemungkinan untuk gagal akan selalu ada. Pembuatan rencana bisnis secara proaktif menentukan tiga skenario: optimis, pesimis, dan paling mungkin terjadi. Kondisi pesimis diperlakukan sebagai jaring pengaman, jika kondisi buruk terjadi. Ketiga skenario tersebut dibuat berdasarkan asumsi, agar prakiraan dapat dibuat. Tentunya, tidak mempertimbangkan kejadian kahar yang luar biasa dampaknya terhadap semua skenario. Bercermin dari pola pembuatan rencana bisnis ini, tampak ada upaya untuk mempertimbangkan risiko. Hal yang perlu dipahami dari pembuatan rencana bisnis adalah tidak selalu rencana bisnis dapat dilanjutkan menjadi bisnis yang sesungguhnya, jika ternyata dari skenario yang optimis saja masih tidak memberikan manfaat ekonomi yang memadai. Rencana bisnis memuat studi kelayakan, yang terdiri dari ukuran-ukuran sebagai panduan sekaligus rambu pengingat agar bisnis terkendali.

Pada tingkatan individu, juga diperlukan adanya rencana, meskipun tidak selalu dalam konteks bisnis. Seperti halnya ilustrasi rencana bisnis, rencana individu perlu juga memprakirakan adanya halangan, bahkan kemungkinan gagal. Sistem pengamanan perlu dipersiapkan, dengan memperhitungkan risiko kegagalan. Namun demikian, jangan menjadikan kondisi yang berisiko ini menyurutkan niat untuk melaksanakan rencana. Susan Kahn dalam bukunya yang berjudul “Bounce Back” menyarankan untuk “gagal segera” (fail fast) dengan memanfaatkan kegagalan dengan mencoba sesuatu yang baru sedini mungkin. Dengan begitu, pertaruhan yang dilakukan tidak terlalu tinggi untuk masa yang lebih panjang. Memprakirakan adanya kemungkinan kegagalan akan membuat individu lebih siap untuk bangkit lebih cepat, dibandingkan kalau persiapan untuk gagal tidak difasilitasi.
Ketakutan akan kegagalan jangan menjadi penghalang untuk mencoba. Terbentuknya rasa takut ini adalah karena adanya putaran pikiran dan perasaan yang berasal dari masa lalu, dalam bentuk pola pikir. Hal ini diungkapkan oleh Kristian Hall dalam buku “Rise from Darkness” mengenai bagaimana kerja saringan mental dalam mempersepsikan dunia sering mengalami malfungsi, distorsi persepsi akan realitas, mengabaikan segala sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan, dan timbulnya “efek velcro” yang melekat di dalam benak. Selanjutnya, Hall menyatakan bahwa kegagalan dalam berpikir mengarah kepada dua hal, yaitu dramatisasi yang berlebihan dan seolah-olah membaca pikiran orang lain. Saringan mental ini yang membuat individu takut untuk gagal, dan lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa demi keamanan.
Kendali untuk melaksanakan rencana adalah memahami tujuan yang akan dicapai. Seberapa bermaknanya pekerjaan yang akan dilakukan untuk pribadi, hanya dapat dinilai oleh masing-masing individu. Jangan ikut-ikutan, karena tujuan orang lain tidak sebentuk dan sebangun dengan yang kita miliki. Toleransi untuk bangkit dari kegagalan untuk setiap orang juga berbeda-beda. Susan Kahn mengusulkan untuk mempraktekkan rahasia bahagia yang dianut orang Jepang sebagai alasan bangun pagi, yang disebut Ikigai. Terjemahan bebas Ikigai adalah nilai kehidupan. Kendali atas rencana didasarkan pada perpotongan empat area: hal yang kita cintai, hal yang kita kuasai, hal yang diperlukan dunia, dan hal apa yang membuat kita dibayar. Perpotongan keempat area ini memberi makna personal dan memperkuat motivasi untuk mencapai tujuan.
Keberanian memulai pelaksanaan rencana, dan kesiapan menghadapi kegagalan dari awal merupakan fondasi kemampuan untuk bangkit lagi dan lagi. Rick Hanson dan Forrest Hanson menyatakan bahwa kemampuan untuk bangkit ini memuat kekuatan-kekuatan seperti: determinasi, percaya diri, dan rasa kasih sayang. Modal kekuatan ini memampukan individu untuk melalui masa-masa sulit, menaklukkan stress, dan menuruti rasa kasih sayang dalam meraih peluang. Kemampuan untuk bangkit akan membuat individu semakin kuat. Kekuatan ini bukan dikarenakan mengalahkan kegagalan, tetapi karena berhasil melalui kegagalan dan bertahan untuk mencapai tujuan.
Semakin mampu individu bangkit dari kegagalan, akan semakin kuat rasa percaya dirinya. Kondisi ini akan membuat individu menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah yang menghalangi dalam proses pencapaian tujuan. Hanson mengatakan bahwa manusia punya tendensi untuk melebih-lebihkan ancaman, dan menganggap enteng kemampuan untuk menanganinya. Keberhasilan melalui kegagalan membuat individu bisa membangun pola kerja timbulnya rasa khawatir. Rasa tenang merupakan aktifasi sistem parasimpatetis yang bekerjanya seperti rem pada mobil. Semakin kuatnya sistem ini, akan meredam sistem simpatetis yang membuat kepanikan, seperti layaknya pedal gas pada mobil.
Kita semua akan mengalami kegagalan dalam menjalankan rencana untuk mencapai tujuan. Kita jangan takut akan kegagalan, karena kegagalan tersebut sebetulnya sangat mungkin diprediksi. Kemampuan bangkit dari kegagalan akan mendewasakan diri kita dalam menghadapi kehidupan dan meningkatkan peluang untuk meningkatkan kemampuan diri. Nilai positif yang perlu diapresiasi bukan hanya pada keberhasilan yang diraih, tetapi lebih ditekankan mengenai bagaimana bangkit dari kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut.




