Bangkit lagi (dan lagi)

Kegagalan adalah hal yang dialami semua orang.  Walaupun perencanaan dibuat secara seksama, kemungkinan untuk gagal akan selalu ada.  Pembuatan rencana bisnis secara proaktif menentukan tiga skenario: optimis, pesimis, dan paling mungkin terjadi.  Kondisi pesimis diperlakukan sebagai jaring pengaman, jika kondisi buruk terjadi.  Ketiga skenario tersebut dibuat berdasarkan asumsi, agar prakiraan dapat dibuat.  Tentunya, tidak mempertimbangkan kejadian kahar yang luar biasa dampaknya terhadap semua skenario.  Bercermin dari pola pembuatan rencana bisnis ini, tampak ada upaya untuk mempertimbangkan risiko.  Hal yang perlu dipahami dari pembuatan rencana bisnis adalah tidak selalu rencana bisnis dapat dilanjutkan menjadi bisnis yang sesungguhnya, jika ternyata dari skenario yang optimis saja masih tidak memberikan manfaat ekonomi yang memadai.  Rencana bisnis memuat studi kelayakan, yang terdiri dari ukuran-ukuran sebagai panduan sekaligus rambu pengingat agar bisnis terkendali.

Photo by Gladson Xavier on Pexels.com

Pada tingkatan individu, juga diperlukan adanya rencana, meskipun tidak selalu dalam konteks bisnis.  Seperti halnya ilustrasi rencana bisnis, rencana individu perlu juga memprakirakan adanya halangan, bahkan kemungkinan gagal.  Sistem pengamanan perlu dipersiapkan, dengan memperhitungkan risiko kegagalan.  Namun demikian, jangan menjadikan kondisi yang berisiko ini menyurutkan niat untuk melaksanakan rencana.  Susan Kahn dalam bukunya yang berjudul “Bounce Back” menyarankan untuk “gagal segera” (fail fast) dengan memanfaatkan kegagalan dengan mencoba sesuatu yang baru sedini mungkin.  Dengan begitu, pertaruhan yang dilakukan tidak terlalu tinggi untuk masa yang lebih panjang.  Memprakirakan adanya kemungkinan kegagalan akan membuat individu lebih siap untuk bangkit lebih cepat, dibandingkan kalau persiapan untuk gagal tidak difasilitasi. 

Ketakutan akan kegagalan jangan menjadi penghalang untuk mencoba.  Terbentuknya rasa takut ini adalah karena adanya putaran pikiran dan perasaan yang berasal dari masa lalu, dalam bentuk pola pikir.  Hal ini diungkapkan oleh Kristian Hall dalam buku “Rise from Darkness” mengenai bagaimana kerja saringan mental dalam mempersepsikan dunia sering mengalami malfungsi, distorsi persepsi akan realitas, mengabaikan segala sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan, dan timbulnya “efek velcro” yang melekat di dalam benak.  Selanjutnya, Hall menyatakan bahwa kegagalan dalam berpikir mengarah kepada dua hal, yaitu dramatisasi yang berlebihan dan seolah-olah membaca pikiran orang lain.  Saringan mental ini yang membuat individu takut untuk gagal, dan lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa demi keamanan.

Kendali untuk melaksanakan rencana adalah memahami tujuan yang akan dicapai.  Seberapa bermaknanya pekerjaan yang akan dilakukan untuk pribadi, hanya dapat dinilai oleh masing-masing individu.  Jangan ikut-ikutan, karena tujuan orang lain tidak sebentuk dan sebangun dengan yang kita miliki.  Toleransi untuk bangkit dari kegagalan untuk setiap orang juga berbeda-beda.  Susan Kahn mengusulkan untuk mempraktekkan rahasia bahagia yang dianut orang Jepang sebagai alasan bangun pagi, yang disebut Ikigai.  Terjemahan bebas Ikigai adalah nilai kehidupan.  Kendali atas rencana didasarkan pada perpotongan empat area: hal yang kita cintai, hal yang kita kuasai, hal yang diperlukan dunia, dan hal apa yang membuat kita dibayar.  Perpotongan keempat area ini memberi makna personal dan memperkuat motivasi untuk mencapai tujuan.  

Keberanian memulai pelaksanaan rencana, dan kesiapan menghadapi kegagalan dari awal merupakan fondasi kemampuan untuk bangkit lagi dan lagi.  Rick Hanson dan Forrest Hanson menyatakan bahwa kemampuan untuk bangkit ini memuat kekuatan-kekuatan seperti: determinasi, percaya diri, dan rasa kasih sayang.  Modal kekuatan ini memampukan individu untuk melalui masa-masa sulit, menaklukkan stress, dan menuruti rasa kasih sayang dalam meraih peluang.  Kemampuan untuk bangkit akan membuat individu semakin kuat.  Kekuatan ini bukan dikarenakan mengalahkan kegagalan, tetapi karena berhasil melalui kegagalan dan bertahan untuk mencapai tujuan.  

Semakin mampu individu bangkit dari kegagalan, akan semakin kuat rasa percaya dirinya.  Kondisi ini akan membuat individu menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah yang menghalangi dalam proses pencapaian tujuan.  Hanson mengatakan bahwa manusia punya tendensi untuk melebih-lebihkan ancaman, dan menganggap enteng kemampuan untuk menanganinya.  Keberhasilan melalui kegagalan membuat individu bisa membangun pola kerja timbulnya rasa khawatir.  Rasa tenang merupakan aktifasi sistem parasimpatetis yang bekerjanya seperti rem pada mobil.  Semakin kuatnya sistem ini, akan meredam sistem simpatetis yang membuat kepanikan, seperti layaknya pedal gas pada mobil.

Kita semua akan mengalami kegagalan dalam menjalankan rencana untuk mencapai tujuan.  Kita jangan takut akan kegagalan, karena kegagalan tersebut sebetulnya sangat mungkin diprediksi.  Kemampuan bangkit dari kegagalan akan mendewasakan diri kita dalam menghadapi kehidupan dan meningkatkan peluang untuk meningkatkan kemampuan diri. Nilai positif yang perlu diapresiasi bukan hanya pada keberhasilan yang diraih, tetapi lebih ditekankan mengenai bagaimana bangkit dari kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut.  

Dimensi Produk

Dimensi produk tidak hanya terkait dengan fungsinya saja. Pada beberapa penelitian, dimensi produk ditambahkan dengan dimensi estetis dan simbolis. Ketika semua produk sudah memenuhi standar yang berlaku di industri, peran dimensi fungsional tidak lagi menjadi pertimbangan yang prioritas bagi konsumen. Pada pertengahan tahun 2000-an, ada artikel yang menyatakan bahwa masa depan sekolah bisnis adalah berpadu dengan sekolah desain. Ketika itu, desain menjadi unsur pembeda yang diapresiasi oleh konsumen karena hampir produk yang standar sudah memenuhi dimensi fungsional. Jika produk tidak sesuai standar, sudah pasti ditolak oleh konsumen atau setidaknya masuk ke peringkat terbawah di daftar alternatif. Pada kurun waktu tersebut, estetika menjadi pendamping dan pelengkap dimensi fungsional.

Photo by Jean-Daniel Francoeur on Pexels.com

Penelitian yang dilakukan oleh Homburg dkk (2015) mengembangkan lebih jauh lagi mengenai pentingnya dimensi produk dalam mempengaruhi minat membeli dan mendorong komunikasi dari mulut ke mulut (word-of-mouth). Diuji tiga dimensi produk: estetis, fungsional, dan simbolis. Hal yang menarik adalah, simbolis memberi pengaruh yang paling kuat untuk menimbulkan minat membeli dan menyebarkan komunikasi dari mulut ke mulut. Berdasarkan temuan tersebut, para pengembang produk perlu untuk mempertimbangkan dimensi simbolis yang melampaui dimensi estetis dan fungsional.

Sebagai contoh adalah sepatu sneakers. Kenyamanan dipakai dan tidak membahayakan si pemakai merupakan dimensi fungsional yang wajib dipenuhi oleh produsen. Dimensi ini adalah yang paling esensial dari produk yang dibeli, atau disebut sebagai point of parity. Fitur yang harus ada. Pada beberapa kondisi, fitur ini distandardisasi oleh pihak yang bertujuan melindungi konsumen.

Desain sneakers berbeda-beda, secara bentuk, warna, style, dan tampilan yang menyeluruh. Ini adalah dimensi estetis. Pada beberapa situasi, dimungkinkan dimensi fungsional berkaitan langsung dengan dimensi estetis. Misalnya, desain ergonomis yang melibatkan dimensi fungsional dan dimensi estetis.

Ketika dimensi fungsional dan dimensi estetis sudah menjadi umum, tambahan dimensi simbolis mengemuka sebagai pembeda satu merek sneakers dengan merek yang lain. Dimensi ini melampaui kegunaan sneakers tersebut, karena lebih personal. Menjadi bagian dari identitas diri pengguna. Konsumen membelinya karena kesesuaian makna sneakers tersebut dengan pribadinya. Produk ini menjadi perpanjangan diri konsumen.

Photo by Ingo Joseph on Pexels.com

Coba perhatikan barang-barang yang Anda beli. Ingat-ingat waktu membeli dan menggunakan produk tersebut. Seringkali ketiga dimensi ini terintegrasi ketika Anda membelinya. Jika Anda amati lagi, dimensi manakah yang paling menonjol dari ketiga dimensi produk untuk setiap barang yang Anda beli dan kenakan. Apakah dimensi fungsional, estetis, atau simbolis?

Pelurusan pengertian inovasi

Jika kita mendengar kata inovasi, kita sering menganggap kata tersebut berhubungan erat dengan teknologi. Selain itu, juga dikesankan kalau bentuk inovasi adalah sesuatu yang benar-benar baru untuk dunia, yang kerap kali disertai dengan upaya yang sifatnya trial-error. Ada juga yang menganggap kalau inovasi itu bermuatan risiko. Karena anggapan-anggapan tersebut, baik individu maupun organisasi merasa inovasi adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Kita perlu untuk mendefinisikan ulang dan memahami inovasi dari sudut pandang yang lebih sederhana.

Photo by Vojtech Okenka on Pexels.com

Teknologi adalah hasil, sekaligus perantara, untuk melakukan inovasi. Tapi, bukan berarti untuk melakukan inovasi harus melalui teknologi. Jika dicermati, segala sesuatu punya peluang untuk lebih disempurnakan. Disinilah kemungkinan untuk melakukan inovasi. Dua pemicu utama inovasi adalah peluang untuk menyempurnakan sesuatu dan keinginan individu/organisasi menciptakan sesuatu yang lebih baik dari waktu ke waktu. Sebagai contoh inovasi yang dilakukan tanpa mengandalkan teknologi adalah pengaturan jadwal kerja berdasarkan jumlah dan kapabilitas sumberdaya yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hasilnya adalah efisiensi tenaga kerja, sumber daya non-manusia, dan waktu. Perangkat inovasi yang paling utama adalah kemampuan daya pikir manusia. Dengan memaksimalkan kemampuan pemikiran serta motivasi untuk melakukan penyempurnaan, maka bukanlah hal yang tidak mungkin kalau kita dapat berinovasi.

Inovasi tidaklah harus merupakan suatu lompatan besar. Inovasi dapat merupakan tindakan penyempurnaan yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Probabilita menghasilkan inovasi yang revolusioner jauh lebih kecil dibandingkan dengan penyempurnaan sedikit demi sedikit yang dilakukan dari waktu ke waktu. Inovasi revolusioner lebih berisiko dan biasanya merupakan suatu upaya trial error. Jika inovasi seperti ini berhasil, maka dampaknya akan dirasakan lebih signifikan dibandingkan dengan inovasi kecil yang berkesinambungan. Sebaliknya, tidak sedikit inovasi yang awalnya dianggap sangat hebat ternyata sejalan dengan waktu meredup dan lenyap. Tidak banyak orang memiliki cukup sumberdaya untuk mewujudkan mimpi besar mereka menjadi kenyataan. Oleh karena itu, sebagian besar individu disarankan untuk melakukan inovasi dalam skala kecil tapi berkelanjutan.

Berpikir kreatif bukanlah melulu berasal dari bakat bawaan. Setiap individu diyakini memiliki kemampuan berkreasi. Sejatinya, hal ini dilandaskan pada kemauan, peka kepada masalah di seputar mereka, belajar dari lingkungan, selalu mencari solusi, dan bersedia untuk membuka mata pikiran serta perasaan. Dengan semakin sering diasahnya kemampuan kreatifitas, maka kita akan semakin mahir dalam mencari alternatif dan jalan keluar terhadap masalah sehari-hari. Secara kontekstual, kreatifitas untuk berinovasi dapat berlaku di lingkungan manapun yang dihadapi oleh individu.

Dimensi kualitas individu

Secara umum, kualitas individu dapat dibagi menjadi empat dimensi: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), sikap (attitude), dan karakter lain yang menonjol (other traits). Secara sadar ataupun tidak, seorang individu akan diukur berdasarkan keempat dimensi ini. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap adalah dimensi-dimensi yang secara umum sering diukur. Sedangkan karakter lain yang menonjol, biasanya melekat kepada pribadi orang per orang. Dengan demikian, lebih sulit untuk diperbandingkan.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Secara umum pendidikan memberi ganjaran dalam bentuk nilai untuk kemampuan akademis individu yang merupakan cerminan dari pemenuhan dimensi pengetahuan. Mereka yang memperoleh nilai lebih tinggi dianggap lebih pintar dibandingkan dengan mereka yang nilainya rendah. Pengukuran pengetahuan sifatnya kuantitatif, berdasarkan nilai yang dilambangkan dengan angka. Dimensi ini seringkali dianggap sebagai penentu baik tidaknya kualitas individu, karena angka sangat jelas membedakan antara tinggi dan rendah. Penilaian kualitas yang hanya bertumpu pada dimensi ini seringkali menyesatkan ketika menarik kesimpulan akan pribadi seseorang.

Keterampilan tidak hanya dilandaskan pada kemampuan secara nalar, tetapi juga ditunjang oleh kemampuan pengindraan dan menilai secara holistik. Dimensi keterampilan pengukurannya tidak terpaku hanya pada angka, tetapi juga non-angka. Dengan demikian, jika seseorang dinilai terampil, pengukurannya tidak bisa diukur dengan perbedaan angka secara pasti. Pengukuran keterampilan ada yang bersifat angka (seperti: waktu pengerjaan) dan non-angka (seperti: kerapihan).

Sikap adalah dimensi yang sulit diukur secara objektif. Pengaruh subjektifitas dari individu yang menilai, lebih dominan dibandingkan saat menilai dimensi yang lain. Sikap merupakan penanda bagaimana individu menyikapi dirinya, menjalin hubungan dengan orang lain, dan merespons lingkungannya. Sikap cenderung merupakan bawaan dari individu, dimana hal ini merupakan hasil interaksi antara internal diri dan latar belakang lingkungan. Jika pendidikan dan pelatihan dapat memperkuat dimensi pengetahuan dan keterampilan, dimensi sikap secara relatif lebih sulit dibentuk. Oleh karena itu, banyak perusahaan saat merekrut karyawan baru, lebih memperhatikan dimensi sikap dibandingkan dengan dimensi pengetahuan dan keterampilan. Karena mereka meyakini pengetahuan dan keterampilan, secara relatif, lebih mudah ditumbuhkembangkan, dibandingkan dengan melakukan pembentukan sikap.

Secara umum, tidak ada dimensi kualitas yang lebih penting dibanding yang lainnya. Penting atau tidaknya, sangat tergantung pada kondisi hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, sebelum kita menilai seseorang, kita perlu untuk mengkontekstualkan dia dengan kondisi lingkungan tempat dan waktu dia berinteraksi dengan orang lain.

Tujuh aturan kesuksesan

Almarhum Steve Jobs dari Apple selain mewariskan produk-produk yang revolusioner, juga meninggalkan nilai-nilai luhur yang dapat ditiru individu dalam mengembangkan diri mereka. Seorang pelatih komunikasi bernama Carmine Gallo, mengidentifikasikan tujuh aturan yang mampu membebaskan “Steve Jobs” dari dalam diri kita, untuk meraih kesuksesan.

Lakukan apa yang kamu cintai, adalah aturan pertama kesuksesan. Jobs pernah mengatakan, “orang yang memiliki semangat dapat mengubah dunia menjadi lebih baik.” Mereka yang mengerjakan tugas dengan antusias, akan merasakan berkurangnya beban kerja yang mereka lakukan. Selain itu, tentunya mereka juga akan menjadi semakin ahli. Dengan demikian, mereka akan lebih besar peluangnya untuk sukses.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jobs mempercayai kekuatan dari visi yang jauh ke depan. Aturan kesuksesan yang kedua adalah memiliki visi sebagai penentu arah bergerak dan aktifitas. Jangan cuma melihat dengan sudut pandang yang sempit, tapi coba definisikan visi dengan lebih luas. Pertanyaan yang relevan untuk karyawan NPN adalah, “apakah kita akan menghabiskan waktu hidup kita dengan menyediakan layanan pengamanan, ataukah kita akan mengubah dunia menjadi lebih baik?

Aturan ketiga adalah selalu mencoba untuk mengaitkan satu pengalaman dengan pengalaman lain. Setiap titik pengalaman akan memberikan manfaat dalam kehidupan seseorang. Jobs pernah belajar kaligrafi, yang awalnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya. Ternyata, ketrampilan kaligrafi tersebut menjadi modalnya untuk membuat logo Apple dan memberikannya sudut pandang aestetis. Tidak heran kalau produk Apple sangat mengandalkan desain.

Perlunya berkata ‘tidak’ kepada banyak hal, merupakan aturan keempat. Intinya adalah mencoba untuk fokus melakukan hal-hal yang penting. Dengan demikian, kita harus mampu untuk mengeliminasi banyak hal berdasarkan tingkat kepentingan, sampai diperoleh jumlah yang masuk akal. Ketika Jobs kembali bekerja di Apple pada 1997, perusahaan tersebut memiliki 350 jenis produk. Dalam waktu dua tahun, Jobs menyusutkan menjadi hanya 10 jenis produk.

Menciptakan pengalaman yang berbeda bagi pelanggan atau klien, adalah aturan kesuksesan kelima. Mereka yang mendapatkan pengalaman berbeda ketika berinteraksi dengan individu atau organisasi, memiliki peluang untuk terhubung secara emosional. Ketika pengalaman dialami secara konsisten dari waktu ke waktu, hal ini dipercaya akan memperkaya hubungan emosional antara pelanggan dengan individu atau organisasi.

Kemampuan berkomunikasi menjadi aturan kesuksesan yang keenam. Diperlukan kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara jelas. Jobs kerap melakukan cara komunikasi seperti pendongeng (storyteller). Dia tidak hanya sekedar melakukan presentasi, tapi dia adalah orang yang memiliki informasi, mendidik, memberikan inspirasi, sekaligus menyampaikannya secara menghibur.

Aturan sukses terakhir adalah kenali keinginan pelanggan. Jual mimpi kepada pelanggan, jangan menjual produk. Konsumen tidak membeli produk, tapi mewujudkan mimpi mereka. Pelanggan tidak peduli dengan produk, tapi mereka peduli dengan diri mereka, harapan mereka, dan ambisi mereka.

Bahasa ‘lokal’ pada organisasi

Pada suatu kegiatan kunjungan perusahaan ke Hard Rock Cafe, pihak dari organisasi ini menjabarkan mengenai sejarahnya, nilai-nilai yang ditanamkan oleh pendiri, dan proses layanan yang mereka laksanakan. Ditunjukkan pula buku-buku prosedur operasi standar yang dibagi-bagi berdasarkan fungsi setiap bagian, seperti: bagian dapur, bagian penyaji, dan lain-lain. Hal yang menarik adalah ketika diinformasikan kalau karyawan yang bekerja di usaha layanan tersebut memiliki bahasa tersendiri yang mencirikan dirinya dengan organisasi yang bergerak di bidang restoran lainnya.

Dalam suatu organisasi, berkembang bahasa ‘lokal’ yang digunakan sehari-hari di dalam kegiatan di organisasi tersebut. Bahasa ini seringkali berkaitan dengan profesi yang kita tekuni, jenis industri yang kita jalankan, pencirian diri organisasi, dan interaksi personal. Seperti halnya sebuah suku, organisasi memiliki nilai-nilai mendasar yang menjadi panduan bagi pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Hal-hal yang terasa di permukaan suatu budaya organisasi adalah artefak dan ritual. Bahasa merupakan salah satu pencirian organisasi.

Hal yang menarik dari Hard Rock Cafe adalah bagaimana bahasa yang dikembangkan untuk melayani pelanggan dibakukan bentuknya dan berlaku untuk semua gerai di seluruh dunia. Dengan demikian, saat pelanggan berinteraksi dengan karyawan Hard Rock Cafe di lokasi manapun, mereka akan mendapatkan pengalaman yang kurang lebih sama. Bahasa yang distandarkan ini berlaku pada dua kondisi: bahasa untuk berinteraksi dengan pihak eksternal (termasuk pelanggan) dan bahasa yang digunakan untuk komunikasi internal. Pelanggan pasti merasakan perbedaan cara penyambutan yang mereka terima di Hard Rock Cafe ketika memasuki restoran tersebut, dibandingkan dengan tempat lain.

Karyawan di suatu organisasi, disadari atau tidak, telah membentuk bahasa ‘lokal’-nya. Perlu pemikiran lebih jauh mengenai standard bahasa yang berfungsi sebagai ciri organisasi, sekaligus mampu menunjukkan profesionalisme di industri terkait. Sudah barang tentu, akan ada penggunakan termin yang kerap digunakan pada industri yang ditekuni. Standardisasi bahasa yang dikembangkan untuk internal dan eksternal organisasi tidak harus terlalu detail, tetapi cukup untuk momen yang kerap terjadi dan penting. Contohnya: ketika pertama kali karyawan suatu organisasi melakukan kontak dengan pihak eksternal. Bahasa ini bisa berlaku untuk komunikasi tatap muka, melalui telepon, ataupun menggunakan surat elektronik.

Meskipun memegang peranan penting, bahasa hanyalah merupakan bagian dari budaya organisasi secara keseluruhan. Disamping penggunaan bahasa yang khas, diperlukan juga karakateristik karyawan yang juga mampu membedakan satu usaha layanan dengan usaha yang lain. Oleh karena itu, tetap diperlukan keseksamaan dalam merekrut dan menyeleksi karyawan untuk organisasi tersebut. Pelanggan mencirikan suatu usaha layanan bukan hanya parsial, tapi secara holistik.

Analogi permainan puzzle dalam kerja organisasi

Seperti layaknya menyusun permainan puzzle, bekerja dalam organisasi memerlukan kepingan-kepingan kontribusi dari setiap anggotanya. Gambar puzzle yang utuh merupakan hasil akhir yang awalnya berasal dari kepingan yang terpisah-pisah, dimana setiap kepingnya saat sendiri-sendiri belum memiliki kejelasan. Mereka baru berarti ketika dipadupadankan sesuai dengan gambar utuh pada contoh. Sama seperti permainan puzzle, dalam pelaksanaan tugas di organisasi juga diperlukan pemahaman mengenai pentingnya setiap bagian pekerjaan dan tahapan dalam menyusunnya.

Kepingan pada puzzle, sekecil apapun, memiliki peranan penting untuk melengkapi gambar akhir. Setiap anggota pada organisasi sudah selayaknya berperan dalam mengerjakan bagiannya, baik secara individu ataupun kelompok tugasnya. Pemimpin organisasi perlu untuk menyadari kalau bagian terpenting dalam berorganisasi adalah ketika merekrut dan menyeleksi anggota untuk bergabung dengan organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk memprakiraan peranan calon anggota ketika mereka menjadi bagian organisasi nantinya. Dengan demikian, pada saat pelaksanaan pekerjaan, setiap anggota mampu dan memiliki kemauan untuk berkontribusi.

Pada permainan puzzle selalu ada gambar final yang menjadi panduan untuk penyelesaiannya. Hal ini pada organisasi merupakan tujuan pengerjaan tugas. Bedanya, kalau di puzzle gambar akhir terlihat jelas dan nyata, sedangkan tujuan organisasi bentuknya bisa abstrak. Oleh karena itu, tujuan pengerjaan tugas perlu dibuat sekonkrit dan sejelas mungkin. Hal ini akan lebih mudah untuk pekerjaan seperti membangun rumah, karena pelaksana akan mengacu pada gambar yang dibuat oleh arsitek. Untuk pekerjaan yang hasil akhirnya bukan merupakan hal yang berwujud, hasil akhir yang dituju akan lebih menantang untuk dikonkritkan.

Terdapat langkah-langkah yang logis dalam pengerjaan puzzle. Diasumsikan dalam tulisan ini, puzzle berbentuk kotak atau bujur sangkar yang umum dijumpai pada permainan ini. Langkah awal adalah mencari sudut-sudut pada gambar, dengan mencari kepingan yang memiliki sudut sembilan puluh derajat. Langkah selanjutnya, dicari kepingan dengan tepian rata, disusun menjadi ‘bingkai’ gambar. Dilanjutkan dengan mengelompokkan kepingan-kepingan puzzle berdasarkan warna dan pola gambar. Pada bagian ini, pengerjaannya dapat dilakukan secara terpisah, untuk dilanjutkan dengan menggabungkan bagian-bagian tersebut menjadi gambar yang utuh. Sama halnya dengan pengerjaan tugas di dalam organisasi. Diperlukan penentuan pola dasar awal sebagai tumpuan pelaksanaan tugas. Selanjutnya ditetapkan batasan-batasan yang jelas untuk membingkai pengerjaan tugas. Anggota organisasi selanjutnya dibagi-bagi ke dalam kelompok yang berdasarkan atas kepakaran dan tugas sejenis. Hasil kerja kelompok-kelompok ini untuk selanjutnya digabungkan menjadi pengerjaan akhir sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan di awal.

Karena penyusunan puzzle merupakan permainan di saat senggang, maka tidak ada dimensi waktu yang menjadi tekanan dalam pengerjaannya. Hal ini tentunya berbeda dengan pengerjaan tugas di organisasi yang memiliki tenggat waktu dan konsekuensi biaya selama pengerjaannya. Perbedaan yang lain dalam mengerjakan puzzle adalah imbalan yang diperoleh hanya berupa kepuasan karena mampu menyelesaikannya. Sedangkan pada pengerjaan tugas di dalam organisasi ada imbalan ekonomis yang dikeluarkan oleh organisasi kepada para anggotanya.

Kesimpulannya, permainan puzzle memiliki kemiripan dengan pengerjaan tugas pada organisasi dalam hal: pentingnya peranan anggota dan tugas yang dikerjakan, penentuan tujuan akhir yang konkrit sebagai acuan kerja, dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Namun demikian, terdapat pula perbedaan antara permainan puzzle dan kerja di organisasi dalam hal waktu, konsekuensi biaya, dan imbalan yang diperoleh para anggotanya.

Membangun rasa percaya diri

Perasaan takut gagal, trauma masa lalu, ataupun pembentukan karakter sejak kecil adalah beberapa penyebab tidak kokohnya rasa percaya diri seseorang. Karena hal ini terkait dengan keengganan untuk pengambilan risiko, mereka yang tidak percaya diri cenderung untuk mencari jalan aman dengan menarik diri dari tanggungjawab yang memiliki peluang untuk gagal. Mereka yang tidak percaya diri ‘bersembunyi’ di belakang orang lain atau mencari bermacam alasan sebagai pelindung untuk mengelak dari tugas di luar rutinitas mereka.

Rosabeth Moss Kanter membuat hukum yang menyebutkan: “apapun dapat terlihat sebagai suatu kegagalan.” Dikatakan juga olehnya kalau perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah bagaimana sikap mereka dalam menangani kekalahan. Seorang dengan rasa percaya diri yang tinggi, menganggap kegagalan adalah pelajaran untuk menjadi lebih baik di waktu mendatang. Sebaliknya, untuk orang dengan percaya diri rendah, kegagalan merupakan pelajaran bagi mereka untuk tidak mencoba lagi hal yang sama. Pemenang akan melihat penghalang sebagai tantangan, sedangkan pecundang memandangnya sebagai jalan buntu yang harus dihindari. Skeptis akan kemampuan diri sendiri, akan membentuk perasaan takut gagal. Menariknya, hal ini tidak hanya terjadi pada mereka yang mengalami kekurangan dalam hal pengetahuan dan ketrampilan, tapi dapat terjadi juga pada mereka yang sesungguhnya memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai.

Kegagalan di masa lalu dapat menghantui pribadi dalam pembentukan rasa percaya diri. Memori akan kondisi buruk yang pernah terjadi, dapat menghambat seseorang untuk melangkah lebih lanjut. Diperlukan ketrampilan untuk melupakan trauma yang menyakitkan, dengan cara menguburkan memori yang tidak diinginkan ke tingkat bawah sadar. Ketrampilan ini perlu dilatih dalam menghapus kenangan buruk. Secara teoritis, manusia dapat memendam keinginan untuk mengenang pengalaman buruk dengan cara menutup pintu psikologis terhadap memori tersebut setiap hari selama sebulan.

Lingkungan individu pada saat lalu dan sekarang, berpengaruh kuat dalam pembentukan rasa percaya diri. Jika seseorang di dalam lingkungan keluarga yang sejak kecil dibiasakan untuk mengambil keputusan dan risiko, besar kemungkinan mereka di masa dewasa akan lebih memiliki rasa percaya diri, dibandingkan dengan mereka yang tidak dibiasakan melakukan hal tersebut. Lingkungan di tempat kerja juga dapat mempengaruhi pengembangan percaya diri karyawan. Pimpinan atau sistem yang mengintimidasi akan mempengaruhi individu pada organisasi tersebut Individu tidak berani mencoba hal yang baru di luar rutinitas. Akibat jangka panjang kondisi seperti ini dapat menenggelamkan rasa percaya diri individu.

Kesimpulannya, seseorang dapat membentuk rasa percaya diri berdasarkan dorongan dari dalam dan pengaruh dari luar. Kemauan dan keberanian adalah contoh dorongan diri. Sedangkan lingkungan yang kondusif merupakan pendongkrak kemampuan seseorang untuk memiliki rasa percaya diri.

Bekerja secara multitasking

Istilah multitasking menunjukkan individu yang mengerjakan berbagai pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Tentunya bekerja dalam kondisi seperti ini tidaklah mudah, dan seringkali memberikan hasil yang tidak memuaskan. Hal ini terjadi karena terpecahnya fokus untuk mengerjakan lebih dari satu pekerjaan, sehingga tidak tercapainya kondisi optimal pada setiap pekerjaan. Meskipun penelitian membuktikan ada individu yang mampu melakukan multitasking dengan mudah, jumlah orang seperti ini tidaklah banyak.

Pada penelitian yang dilakukan oleh psikolog Donald Broadbent pada pilot pesawat tempur, dibuktikan kalau pilot hanya mampu memperhatikan jumlah sinyal secara terbatas. Mereka tidak mampu memperhatikan semua indikator yang ada di ruang kemudi pesawat. Berdasarkan temuan ini dibuktikan kalau perhatian pikiran dapat memperbesar atau memperkecil sinyal yang ditangkap oleh manusia. Karena keterbatasan rentang perhatian, setiap individu perlu mengenali batas perhatian yang dapat mereka akomodir. Dengan mengetahui batas tersebut, mereka dapat mengetahui seberapa banyak pekerjaan yang dapat mereka pegang dan kendalikan.

Lena Groeger menyarankan cara menghindari multitasking. Saran pertama adalah melatih diri untuk melakukan pekerjaan yang repetitif, sehingga menjadi sesuatu yang otomatis dan membebaskan diri untuk dapat mengalihkan perhatian ke hal yang lain. Cara yang lain adalah dengan mengalokasikan waktu untuk pekerjaan seperti membalas e-mail. Selain itu adalah dengan menonaktifkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi, seperti lagu latar dengan lirik (karena ada kemungkinan kita akan ikut bernyanyi). Hal yang juga mesti diwaspadai adalah keterbatasan manusia untuk mencurahkan perhatian. Dalam keadaan terbaik, manusia dapat fokus secara intens sekitar 20 sampai 30 menit. Oleh karena itu disarankan untuk melakukan jeda setiap 30 menit.

Beberapa cara lain yang disarankan agar dapat melakukan multitasking adalah dengan menggunakan checklist harian untuk mengetahui jadwal harian secara lebih konkrit. Cara lain adalah dengan melakukan pengaturan ulang tempat kerja, sehingga tidak banyak gangguan. Misalnya, dengan bekerja menghadap tembok, dibandingkan menghadap ke pemandangan dengan memperhatikan orang lalu lalang. Cara terakhir yang disarankan agar menghindari multitasking adalah dengan mengatakan ‘tidak’, supaya tidak terjebak pada keterlibatan yang terlalu banyak.

Kerap kali kita sulit untuk menghindari bekerja secara multitasking. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya diri untuk bekerja dengan lebih cerdas. Hal yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri pada awal adalah penting tidaknya pekerjaan tersebut. Apakah pekerjaan tersebut harus dilakukan saat ini, apakah bisa ditunda, apakah tidak harus dilakukan, atau apakah dapat didelegasikan kepada orang lain. Dengan memilah-milah tingkat kepentingan pekerjaan, diharapkan individu dapat lebih fokus pada pekerjaan yang inti dan penting.

Analogi tim olahraga pada kerja kelompok

Selayaknya tim olahraga, kerja dalam suatu kelompok juga merupakan kerjasama yang bertujuan untuk memenangkan pertandingan. Kita mengenal berbagai bentuk tim olahraga, dimana masing-masing memiliki karakter khas dan dapat kita analogikan dengan kelompok kerja di dalam organisasi. Sama halnya dengan tim olahraga, kelompok kerja juga memiliki tujuan, terdiri lebih dari satu orang anggota, ada pembagian tugas, dan ada kerjasama di antara anggota. Meski begitu, tiap tim olahraga memiliki esensi yang berbeda pada hubungan kerjasama antar mereka, disesuaikan dengan tata cara dan aturan main tiap bentuk olahraga.

Sepakbola. Tim sepakbolah mirip dengan organisasi pada umumnya, dimana setiap orang memiliki posisi dan tugas yang spesifik. Penyerang bertugas utama menyarangkan bola ke gawang lawan, kiper sebagai penjaga agar bola tidak bersarang di gawangnya, back sebagai pelindung lini belakang, dan gelandang mengisi bagian tengah lapangan sebagai pengumpan bola ke penyerang. Meskipun pada beberapa kondisi dimungkinkan setiap pemain untuk menyarangkan bola ke gawang lawan, namun tugas setiap individu sangat spesifik. Begitu juga dengan anggota kelompok kerja di dalam organisasi. Mereka memiliki posisi, hak, dan tanggungjawab yang spesifik. Bahkan hal ini dibakukan dengan adanya deskripsi jabatan yang tertulis. Organisasi yang mirip tim sepakbola adalah organisasi yang mengandalkan spesialisasi tiap anggotanya.

Basket. Pada tim basket posisi dan tanggungjawab para anggotanya lebih cair, jika dibandingkan dengan tim sepakbola. Siapa yang bertugas untuk memasukan bola ke ring lawan, tidaklah secara spesifik menjadi tanggungjawab satu anggota tertentu. Demikian juga pada posisi bertahan, tidak ada anggota yang spesifik bertugas menjaga ring timnya. Organisasi yang mirip dengan tim basket adalah organisasi yang anggotanya mampu untuk melakukan tugas secara berganda (multi-tasking). Hirarki kerjanya juga lebih leluasa dibandingkan dengan tim sepakbola. Organisasi kerja yang menganut pendekatan tim basket adalah organisasi kreatif, dengan tugas yang beraneka ragam, namun memiliki jenis yang mirip.

Baseball/softball. Meskipun cabang olahraga ini dianggap sebagai olahraga tim, keunggulan individu sangat berperan. Ketika satu anggota memukul bola, keberhasilannya tergantung pada kemampuan dirinya, rekan timnya tidak dapat membantu apa-apa. Keberhasilan seorang anggota untuk membuat strike, memungkinkan anggota tim yang ada di base berpindah ke base berikutnya, atau bahkan dapat melakukan home run. Pada kelompok kerja seperti ini, kepakaran tiap individu lebih menonjol dibandingkan pada tim sepakbola. Contohnya adalah organisasi teknologi informasi dan organisasi akuntansi, dimana tugas mereka jelas dan terarah.

Voli. Pada tim voli, terdapat kepakaran yang spesifik, terutama untuk penyerang dan pengumpan. Namun demikian, terdapat rotasi posisi di setiap perpindahan bola. Setiap anggota tim harus melakukan service secara bergantian. Selain itu, mereka juga harus mampu menerima dan mengarahkan bola ke pengumpan. Untuk selanjutnya, pengumpan akan mengarahkan bola ke penyerang untuk melakukan smash ke arah lawan. Hal yang membedakan voli dengan olahraga yang disebutkan sebelumnya adalah tidak adanya kontak badan langsung antara pemain dengan lawan mereka. Tim dipisahkan oleh net. Kelompok kerja seperti ini, biasanya adalah kelompok kerja yang memiliki lokasi kerja secara fisik terpisah dengan kelompok lain. Contohnya adalah organisasi yang berkerja di back office.

Ilustrasi tim olahraga tersebut di atas dapat menjadi referensi dalam melakukan aktifitas sehari-hari dengan kelompok kerja. Menurut Anda, kelompok kerja Anda lebih sesuai dengan ilustrasi tim olahraga yang mana?