Peranan social media untuk organisasi (1)

Pada suatu kesempatan makan malam, Andres Kutt yang menjabat sebagai chief evangelist Skype berbincang-bincang dengan orang yang duduk di sebelahnya.  Pembicaraan tersebut seputar presentasi yang dilakukan oleh Kutt sebagai key speaker pada siang harinya di konferensi kewirausahaan yang diselenggarakan oleh EFMD dan Tallinn School of Economics and Business Administration.  Kutt menyampaikan kalau awal mula Skype dipicu akan kebutuhan untuk berkomunikasi pada satu tim kerja.  Skype yang dilangsir pada 2003, bermula dari Tallinn, ibu kota Estonia.  Saat ini mereka telah berada di sepuluh lokasi utama di seluruh dunia, dimana masing-masing memiliki budaya yang sangat berbeda dengan budaya Estonia.  Meskipun demikian, budaya Estonia merupakan budaya utama yang mempengaruhi organisasi Skype di seluruh dunia.  Budaya kekeluargaan yang dianut, mengadung unsur kebersamaan, rasa percaya antar anggota yang tinggi, berorientasi sosial, dan berorientasi pada kegembiraan.  Namun demikian, di sisi yang lain, budaya tersebut memiliki aturan yang tegas.   Rancang budaya organisasi ini memang disengaja oleh para pendiri Skype, dengan tujuan untuk mendukung pendekatan problem secara praktis, sekaligus untuk menarik para talenta terbaik agar mau bergabung dengan organisasi ini.  Hasil yang langsung dirasakan oleh Skype dengan membentuk budaya ini adalah tingginya tingkat inovasi di antara para pekerjanya.  Kutt membagi menjadi dua bentuk inovasi: inovasi yang dipicu oleh pengguna (user) dan inovasi yang dipicu oleh pembuat (manufacturer).  Pada inovasi pengguna, para pengembang inovasi berharap mendapatkan manfaat dengan cara menggunakan hasil inovasi tersebut.  Sedangkan pada inovasi pembuat, para pengembang inovasi berharap memperoleh manfaat dengan cara menjualnya.  Inovasi awal yang dilakukan oleh Skype adalah inovasi yang dipicu oleh pengguna.

Selepas berbagi mengenai Skype, Kutt menyampaikan pendapatnya mengenai social media yang semakin marak.  Untuk orang yang dekat teknologi informatika, ternyata Kutt bukanlah pengguna social media yang aktif.  Dia mengkhawatirkan usia dari social media, karena besar kemungkinan bentuk ini akan berganti dengan cepat mengikuti tren.  Ditambahkan olehnya, Skype memilih untuk memecahkan masalah yang mendasar, dibandingkan dengan sesuatu yang artifisial.  Skype memecahkan masalah yang mendasar dalam komunikasi, yaitu tingginya biaya komunikasi suara jarak jauh.  Perlu dicatat, kalau Skype telah berhasil mengaplikasikan VOIP pada jaringan telepon selular.  Kembali Kutt mengingatkan, kalau Skype memberikan solusi berbasiskan pada inovasi pengguna yang diperoleh manfaatnya jika digunakan.

Artikel 1 dari 3 artikel (artikel ini telah dimuat di Forum Prasetiya Mulya, 2011)

Membentuk identitas diri

Ada satu kata bijak yang mengatakan: jangan menilai buku dari sampulnya.  Kurang lebih artinya adalah kita tidak boleh sekedar mengukur kadar seseorang dari penampilannya saja.  Tanpa membantah kata bijak tersebut, pada kenyataannya penampilan seseorang seperti sebuah etalase yang direspons oleh orang lain.  Meskipun penampilan bukanlah cerminan karakter pribadi sesungguhnya, disarankan agar setiap individu memperhatikan bagaimana mereka merepresentasikan dirinya.  Setiap individu memiliki ciri-ciri yang khas, sehingga dapat diingat dan dikenali oleh orang lain.  Ciri-ciri tersebut dapat berkaitan dengan karakter fisik ataupun non-fisik.  Karakter fisik meliputi hal-hal seperti: bentuk tubuh, karakter wajah, cara berpakaian, gerak-gerik yang teramati, dan lain sebagainya.  Sedangkan karakter non-fisik adalah karakter yang tidak kasat mata, seperti: sifat, perasaan, sikap, persepsi, dan lain-lain.  Karakter fisik dianalogikan sebagai ‘sampul buku’, sedangkan karakter non-fisik, adalah ‘isi buku’ yang sulit diamati secara sekilas.  Untuk mengenali karakter non-fisik, diperlukan interaksi yang relatif lebih lama dibandingkan dengan pengamatan karakter fisik.  Pada awalnya, orang lain menangkap elemen-elemen yang terkait dengan karakter fisik.  Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memperhatikan hal ini, terutama kalau kita akan bertemu dengan orang yang belum pernah atau jarang bertemu dengan kita.  Tujuannya agar impresi mereka menjadi positif kepada kita.  Seiring dengan semakin seringnya kita berinteraksi, karakter non-fisik kita akan memperkuat identitas diri kita, dan diharapkan impresi orang lain kepada kita akan semakin positif.

Mengapa kita bisa dapat dengan mudah mengingat seseorang, tetapi sulit untuk mengingat orang yang lain?  Kita punya kecenderungan mengingat seseorang dengan karakter yang unik dan spesifik.  Sebaliknya, kita cenderung sulit untuk mengingat orang yang cuma rata-rata atau tidak memiliki karakter yang menonjol.  Identitas diri yang unik dan spesifik membuat orang mudah mengingat kita.  Identitas yang kita harapkan akan diingat oleh orang lain adalah identitas yang positif, seperti: bijaksana, tegas, mendukung, dan lain-lain.  Perlunya kita berhati-hati dalam membentuk identitas diri adalah karena bukan tidak mungkin orang lain menangkap karakter kita yang negatif, seperti: sombong, pelit, egois, dan lain sebagainya.

Sebagai pribadi, hal yang dapat kita lakukan adalah membentuk identitas diri.  Pihak lain menangkap identitas diri kita sebagai suatu citra yang memiliki makna unik dan spesifik bagi mereka.  Artinya, citra diri seseorang merupakan hasil dari pembentukan identitas diri.  Dengan demikian dapat disimpulkan, kita perlu membentuk identitas diri, baik yang terkait dengan karakter fisik ataupun non-fisik, agar citra kita di mata orang lain menjadi positif.

Lampaui harapan klien

Pemahaman mengenai definisi klien perlu diperluas.  Klien bukan hanya terbatas pada pihak pelanggan yang dilayani oleh organisasi, tetapi juga internal organisasi yang menjadi kelanjutan proses yang dilakukan oleh suatu departemen atau tim kerja.  Semisal: klien departemen procurement adalah departemen operasi, dalam hal penyediaan seragam dan perlengkapan kerja.  Jika harapan klien internal terpenuhi, maka ada peluang yang besar kalau harapan klien eksternal juga akan terpenuhi.  Tentunya, memenuhi harapan klien eksternal adalah sesuatu yang minimal harus dilakukan oleh setiap penyedia layanan.  Klien akan merasa puas kalau harapannya terpenuhi.

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah memenuhi harapan klien sudah cukup?  Pada beberapa kondisi, harapan tersebut dapat dilampaui dengan memberikan layanan yang lebih kepada klien.  Perlu dipastikan sebelumnya kalau layanan lebih ini memberikan manfaat yang bernilai kepada klien.  Jangan memberikan layanan lebih yang tidak dihargai oleh pihak klien.

DeMaio memberikankan empat tips untuk melampaui harapan klien, baik internal maupun eksternal.  Pertama, menyelesaikan pekerjaan lebih cepat daripada jadwal yang telah disepakati.  Hal yang terpenting adalah pada saat menetapkan jadwal, pastikan kalau ada peluang untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat.  Hal ini menunjukkan kalau penyedia layanan bekerja secara efisien dan peduli kepada klien.  Selain itu, klien akan lebih memiliki keleluasaan dalam hal waktu untuk proses selanjutnya.  Kedua, bertanya dengan proaktif.  Hal ini menunjukkan kalau penyedia layanan adalah mitra kerja yang baik dan peduli kepada proses serta hasilnya.  Pertanyaan proaktif menunjukkan kalau penyedia layanan memahami dan siaga akan hal-hal yang berpeluang menghambat lancarnya penyelesaian pekerjaan.  Ketiga, mengetahui kapan harus merendah kepada klien.  Meskipun hal ini penting, namun perlu disiasati agar tidak mengancam profesionalisme dan citra penyedia layanan.  Tidak perlu terlalu banyak merendah, karena akan membuat perlakuan yang tidak seimbang antara kedua belah pihak.  Terakhir, memberikan umpan balik untuk menyempurnakan proses.  Cara menyampaikan umpan balik ini juga perlu dipertimbangkan secara taktis, agar memberikan kesan kalau hal ini penting untuk kepentingan klien, bukan cuma sekedar kritik.

Memberikan kepuasan kepada klien internal dan eksternal adalah suatu kewajiban bagi tiap bagian di dalam organisasi.  Langkah selanjutnya adalah mengetahui manfaat apa yang bernilai lebih bagi klien dan bagaimana menyampaikannya.  Empat cara melampaui harapan klien adalah menyelesaikan lebih cepat daripada tenggat waktu yang disepakati, bertanya secara proaktif, merendah secara tepat, dan memberikan umpan balik untuk penyempurnaan proses.

Bahaya dan manfaat stress

Banyak anggapan kalau stress adalah kondisi yang berdampak negatif.  Tekanan akibat stress merupakan suatu kondisi emosional yang diakibatkan oleh lingkungan ataupun juga tidak terpenuhinya keinginan seseorang akan kondisi yang diharapkan.  Stress  menyebabkan terganggunya keseimbangan mental dan fisik.  Tidak jarang stress menjadi pemicu penyakit yang dapat berakibat fatal, seperti: gangguan jantung, sesak nafas, gangguan pada kulit, dan hipertensi.

Selama ini yang lebih dikenal sebagai stress secara spesifik sebetulnya disebut distress.  Distress terjadi karena perasaan cemas atau kesedihan yang ekstrim.  Tekanan lingkungan terjadi karena adanya masalah di tempat kerja, keluarga, pergaulan, dan kondisi eksternal lain yang terkait dengan keseharian.  Distress akan memburuk ketika individu dihadapkan pada lingkungan yang tidak mendukung.  Hal-hal yang memperburuk ini seperti: kemacetan lalu lintas, tidak tertibnya pengarsipan, dan tempat kerja yang tidak teratur rapi.  Untuk mengurangi kondisi yang memperbesar distress, cara yang dapat dilakukan secara proaktif adalah dengan membenahi lingkungan kerja dan menerapkan manajemen waktu.  Meskipun langkah ini tidak akan mengurangi inti distress, setidaknya mencegah kondisi distress menjadi lebih kuat.

Selain distress, juga ada jenis stress yang disebut sebagai eustress.  Kalau distress bersifat ekstrim, eustress merupakan stress yang lebih moderat atau dalam tingkatan yang relatif normal.  Eustress justru memberikan manfaat bagi individu yang mengalaminya.  Tekanan mental pada eustress memberikan dorongan positif, yang membuat individu dapat memiliki ‘tenaga’ lebih dalam melaksanakan tugasnya.  Hal yang perlu dicermati adalah eustress ini merupakan hasil persepsi individu. Sehingga individu perlu untuk pandai-pandai dalam menyikapi stress, dengan menganggapnya sebagai eustress yang bermanfaat, bukan sebagai distress yang merugikan.

Dengan mengenali jenis stress, diharapkan individu dapat mengurangi efek negatifnya melalui tindakan proaktif dengan membenahi lingkungannya dan pengelolaan waktu, dan memperbesar efek positifnya dengan memanfaatkan stress sebagai penambah tenaga dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari.

Komunikasi lewat e-mail

Dengan banyaknya jumlah e-mail yang dikirimkan dan diterima setiap hari, individu perlu lebih taktis dalam mengelola e-mail.  Seringkali hal sepele seperti ini memperlambat kerja sehari-hari.  David Silverman menyarankan empat hal dalam mengirimkan pesan lewat e-mail dan tiga hal untuk mengelola inbox.

Empat saran dalam mengirimkan pesan melalui e-mail adalah:

  1. Bertanya sebelum mengirim pesan.  Ketahui dengan jelas apa yang Anda ingin peroleh dari para penerima pesan sebelum menulis e-mail.  Penting juga diidentifikasi dengan jelas, siapa saja pihak yang akan anda kirimkan e-mail tersebut.  Diperlukan sensor diri dalam menyampaikan inti pesan, kontekstualnya dengan penerima pesan, waktu pesan dikirim, dan redaksional pesan yang disesuaikan dengan penerima.
  2. Sampaikan di awal.  Selalu jabarkan tujuan e-mail yang dikirim pada paragraf atau kalimat pertama.  Sampaikan hal yang penting dahulu, baru sampaikan rincian ataupun latar belakang penunjang.  Cantumkan juga informasi penting secara ringkas pada subjek e-mail.
  3. Uraikan dengan jelas.  Jangan berasumsi kalau pembaca mengetahui segala hal yang Anda sampaikan.  Sertakan informasi yang kontekstual dan jangan mempersulit  para  pembaca dengan referensi yang tidak jelas.  Gunakan lampiran dokumen jika informasi yang ingin disampaikan perlu data yang lengkap dan komprehensif.
  4. Jelaskan pendapat Anda.  Jangan hanya meminta pembaca memberikan pendapatnya, tanpa menjelaskan pendapat Anda secara lebih dahulu.  Ekspresikan opini Anda, sebelum bertanya kepada pembaca untuk memberikan opini mereka.  Perlu dibedakan dan dijelaskan antara fakta dan opini, sehingga tidak terjadi penyimpangan makna.  Bersikaplah terbuka dengan tidak menganggap pendapat pribadi Anda adalah yang terbaik.

Hal yang juga perlu dicermati adalah mengelola e-mail yang diterima di inbox.  Diperlukan disiplin dalam membersihkan inbox.  Tujuannya bukan hanya untuk menghemat kapasitas, tetapi juga untuk mengefisiensikan waktu Anda dalam menjawab e-mail.  David Silverman menyarankan tiga hal dalam pengelolaan inbox:

  1. Simpan e-mail, tapi jangan membuat terlalu banyak file.  Dengan menyimpan e-mail ke dalam file membuat inbox akan lebih rapi dan ringkas.  E-mail yang lama dapat dicari dengan menggunakan fungsi search, meskipun e-mail tersebut berada pada file tertentu.
  2. Hanya simpan satu e-mail per topik.  Tidak perlu untuk menyimpan setiap e-mail, jika e-mail tersebut telah memiliki serangkaian tanggapan.  Jika sudah ada update pada e-mail per topik, buang e-mail dengan topik yang sama yang telah disimpan sebelumnya.
  3. Lakukan secara berkala.  Luangkan waktu setiap hari dengan membuang e-mail yang tidak Anda butuhkan.  Jika perlu, Anda keluar dari milis yang Anda anggap tidak terlalu penting dan menolak penawaran dari pihak-pihak yang menjual produk.

Pengelolaan e-mail adalah hal yang perlu dilakukan secara reguler dengan tujuan efisiensi dalam proses kerja sehari-hari.  Diharapkan dengan pengelolaan yang lebih baik, kinerja kerja harian akan semakin sempurna dari waktu ke waktu.

Komunikasi holistik

Perangkat komunikasi yang dianggap umum adalah mulut dan telinga, dimana mulut sebagai pengirim pesan dan telinga sebagai penerima pesan.  Sebenernya pesan dapat diterima tidak hanya melalui telinga dalam bentuk suara, tetapi juga dalam bentuk yang lain.  Kelima indera manusia sebetulnya adalah simpul-simpul penerima pesan.  Bahkan indera penglihatan adalah penerima pesan yang seringkali lebih kuat dibandingkan dengan pendengaran.  Perhatian yang diberikan melalui penglihatan juga relatif lebih besar jika dibandingkan dengan indra yang lain.  Meskipun minor, indera peraba, pencecap, dan pencium, juga berperan sebagai penerima pesan.  Jika panca indera diurutkan berdasarkan kepekaan sebagai penerima pesan, maka urutannya adalah: penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pencium (hidung), peraba (kulit), dan pencecap (lidah).

Dengan mengenali indera penerima pesan, maka penyampai pesan dapat memanfaatkan berbagai media ketika berkomunikasi.  Diantara semua cara berkomunikasi, tatap muka adalah yang dianggap paling efektif karena para pihak dapat memanfaatkan keseluruhan indera saat berkomunikasi tanpa ada penundaan (delay).  Cara berkomunikasi secara jarak jauh melibatkan hanya sebagian indera saja, sehingga tidak kaya dalam makna dan ada peluang terjadinya penundaan.  Teknologi mencoba mengatasi hal ini dengan cara menghantarkan suara dan visual, yang melibatkan dua indera yang terpenting untuk menerima pesan: penglihatan dan pendengaran.  Contoh teknologi yang memfasilitasi  ini adalah video conference dan pemanfaatan piranti lunak Skype.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara mendengar dan menyimak.  Mendengar atau menangkap pesan melalui panca indera dilakukan secara sekadarnya, tanpa diproses lebih lanjut.  Sedangkan menyimak adalah suatu upaya mental yang melanjutkan pesan yang ditangkap untuk diproses, sehingga tercipta suatu makna yang dimengerti.  Oleh karena itu, selain mengandalkan kepekaan penerima pesan, diperlukan juga perhatian penuh dan intensi untuk mengolah pesan menjadi hal yang bermakna.  Motivasi untuk berkomunikasi diawali dengan penetapan tujuan komunikasi yang ingin dicapai, sehingga arah komunikasi bisa lebih jelas.  Untuk komunikasi formal, kerap ditentukan agenda, waktu, dan durasi pertemuan.  Tujuannya adalah sebagai penentu arah dan membentuk kondisi yang kondusif.

Komunikasi adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan manusia.  Diperlukan pemahaman lebih jauh mengenai indera penerima komunikasi, cara berkomunikasi, dan memproses materi yang dikomunikasikan.  Dengan demikian, individu diharapkan dapat mendapatkan manfaat yang lebih besar dari aktifitas komunikasi yang dilakukannya.

Menindaklanjuti pekerjaan sehari-hari

Perencanaan kerja harian adalah suatu upaya untuk menyelesaikan bagian dari pekerjaan yang skalanya lebih besar atau pekerjaan yang bersifat rutin.  Hal yang sering luput dari perhatian adalah perencanaan kerja yang menjadi bagian penugasan yang lebih besar, karena karyawan terbenam dengan pekerjaan rutin.  Seperti halnya pengelolaan dana pribadi, terdapat dana yang dikeluarkan untuk keperluan rutin dan dana yang dialokasikan untuk investasi.  Demikian pula halnya dengan waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.  Salah satu hal yang mengakibatkan keengganan mengerjakan penugasan besar adalah perasaan ketidakmampuan mengerjakannya karena skala pekerjaan yang dianggap terlalu besar.  Diperlukan pola pemikiran yang lebih sistematis dalam membagi-bagi tugas besar tersebut menjadi bagian yang lebih masuk akal untuk dialokasikan setiap harinya.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaginya adalah dengan memetakan keterkaitan antara bagian-bagian kecil tersebut dengan tugas akhir, mengetahui tindakan yang dilakukan setiap hari untuk pengerjaannya, dan bagaimana pengukuran keberhasilan menyelesaikan setiap bagian tersebut.  Pada penjelasan di atas disebutkan ada dua bentuk kerja, yaitu pekerjaan rutin dan pekerjaan yang merupakan bagian dari tugas yang lebih besar.  Namun demikian, perlu juga dicadangkan waktu untuk merespons kondisi-kondisi mendadak yang tidak terduga.  Hal ini perlu dibedakan dengan kegentingan yang dihadapi karena ketidaksiapan melaksanakan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.  Pekerjaan mendadak lebih cenderung di luar ekspektasi, sedangkan pekerjaan yang mendesak disebabkan karena adanya penundaan yang berada di bawah kendali individu.

Dalam mengerjakan daftar harian, Steven DeMaio menyarankan untuk melakukan tiga cara supaya pekerjaan dapat diselesaikan secara efisien.  Pertama, pastikan untuk dapat setidaknya menyelesaikan tiga hal sebelum tengah hari.  Statistik mengindikasikan kalau tim yang berada di depan pada setengah waktu pertandingan, memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan tersebut.  Kedua, tentukan urutan kerja dengan mengacu pada kecepatan waktu penyelesaiannya.  Disarankan untuk memulai dengan tugas yang waktu pengerjaannya lebih lama, baru diikuti oleh bagian-bagian yang memerlukan waktu lebih singkat.  Dikhawatirkan kalau mengerjaan bagian yang memakan waktu lebih lama pada akhir bagian pekerjaan, maka kita akan kehabisan waktu di akhir hari.  Saran ketiga adalah mengerjakan tugas yang sejenis pada waktu yang bersamaan.  Pikiran manusia bekerja berdasarkan repetisi.  Oleh karena itu, pekerjaan yang sejenis akan membentuk momentum.

Individu dalam mengerjakan tugas sehari-hari dapat terjebak pada kondisi dimana dirinya dikendalikan oleh penugasan, bukan sebaliknya.  Mengendalikan pekerjaan berdasarkan waktu dan kemampuan individu memerlukan suatu perencanaan dan pengerjaan tugas secara taktis dan efisien.

Elemen pembentuk budaya organisasi: suatu pemikiran

Terdapat tiga elemen yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lainnya pada suatu organisasi: manusia, sistem, dan lingkungan.  Organisasi yang terdiri dari individu, memerlukan suatu sistem yang dapat mengatur para individu yang memiliki keragaman dalam hal karakter, perilaku, sikap, dan latar belakang.  Aturan yang diberlakukan sistem untuk mengorganisir dituangkan dalam bentuk standard operating procedure (SOP) yang mengacu pada tujuan organisasi.  Di sisi yang lain, sistem yang berlaku juga harus mentaati standard industri yang ditetapkan oleh pemerintah.  Selain itu, agar dapat berhubungan harmonis dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat sekitar, organisasi juga perlu untuk peka dalam mengenali ‘standar’ yang seringkali tidak tertulis secara eksplisit.  Lingkungan yang selalu berubah mengkondisikan organisasi untuk selalu mampu beradaptasi.  Manusia juga selalu berinteraksi dengan lingkungan, yang mengakibatkan manusia juga selalu mengalami perubahan.  Hubungan antara lingkungan dan manusia mengakibatkan manusia juga bereaksi terhadap sistem yang diberlakukan oleh organisasi.  Oleh sebab itu, sistem perlu luwes sekaligus tegas, agar dapat mengakomodir perubahan yang terjadi di manusia dan lingkungan.  Ketika ketiga unsur ini berinteraksi dari hari ke hari, terbentuklah budaya organisasi.  Budaya ini berupa pengetahuan tacit yang berpengaruh pada perilaku sehari-hari para individu pada organisasi tersebut.  Berikut ini adalah gambaran mengenai keterkaitan antar ketiga elemen tersebut.

budaya organisasi

 

Kecerdasan untuk bangkit dari kegagalan

Terdapat beragam kecerdasan individu yang mengindikasikan kemampuannya dalam berbagai bidang.  Kecerdasan yang sering kita kenal adalah IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan intelejensia, EQ (emotional quotient) atau kecerdasan mengelola emosi, dan SQ (spiritual quotient) atau kecerdasaan yang berhubungan dengan Sang Pencipta.  IQ mengukur kemampuan berpikir individu untuk memecahkan masalah yang terkait dengan kemampuan logikanya.  Sedangkan EQ merupakan matra untuk mengukur kemampuan seseorang mengendalikan emosinya secara kontekstual dengan lingkungan sosial yang dihadapinya.  Konsep SQ lebih ditekankan kepada aspek rasa percaya dan keyakinan individu kepada hubungan dirinya dengan penciptanya.

Selain ketiga kecerdasan tersebut, ada kecerdasan yang disebut sebagai AQ (adversity quotient), yang mengukur kemampuan individu untuk bangkit kembali dari kegagalan yang dia alami dan memetik pelajaran dari kegagalan tersebut.  Kecerdasan ini diperlukan sebagai salahsatu kondisi yang harus dipenuhi oleh individu dalam menghadapi lingkungan yang berubah dan tidak pasti.  Semakin tinggi kecerdasan ini, individu akan relatif lebih cepat bangkit dari kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut agar tidak terulang lagi di masa mendatang.

Stoner dan Gilligan dalam bukunya yang berjudul The Adversity Challenge menjabarkan siklus yang disebut sebagai the adversity cycle.  Siklus terdiri dari lima tahapan: (1)kesulitan (adversity), (2) pencerahan dan pengungkapan, (3) penyesuaian, (4)kedewasaan, dan (5) keyakinan dan keberanian.  Selanjutnya, siklus kembali lagi ke tahap  pertama, yaitu tahap kesulitan.  Dari siklus tersebut, dapat dimaknai kalau hasil dari suatu kesulitan atau kondisi yang buruk, bukanlah selalu berakhir dengan rasa putus asa.  Individu sepatutnya menyadari apa yang menjadi ‘manfaat’ dari kejadian tersebut, untuk selanjutnya membuat mereka dapat melakukan penyesuaian.  Tahap ini merupakan suatu upaya adaptasi.  Secara sikap, individu akan lebih dewasa dalam memandang suatu kondisi buruk dan wawasannya juga akan semakin luas. Kedewasaan ini akan meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian mereka untuk mengambil risiko di masa mendatang.  Pola siklus seperti ini sering kita jumpai pada film-film cerita yang mengisahkan bagaimana untuk mencapai kemenangan, seorang tokoh jagoan harus mengalami dulu kekalahan.

Seminar Experiential Brand di Universitas dr. Moestopo (beragama)

Pada hari Sabtu, 20 Agustus 2011, Adhi Baskara menjadi pembicara tunggal pada seminar perkuliahan di program magister Universitas dr. Moestopo (beragama).  Topik yang dibagi kepada para peserta adalah mengenai Experiential Brand.  Inti dari topik tersebut adalah bagaimana pemasar menggunakan ritual consumption sebagai diferensiasi merek, sehingga dikenal oleh pasar sasarannya.  Berbagai contoh merek digunakan sebagai ilustrasi mengenai gejala ritual consumption.  Beberapa pertanyaan diajukan ketika seminar ini berlangsung, diantaranya adalah mengenai konteksnya dengan industri otomotif dan kaitan topik dengan proses segmentasi pasar.  Acara ini berlangsung selama dua jam.